• Konstruksi Generator Sinkron

    Pada dasarnya konstruksi dari generator sinkron adalah sama dengan konstruksi motor sinkron, dan secara umum biasa disebut mesin sinkron. Ada dua struktur kumparan pada mesin sinkron yang merupakan dasar kerja dari mesin tersebut, yaitu...

  • Driver Motor DC Untuk Mengatur Arah Putaran

    ksi kontrol dasar yang digunakan dalam kontroler analog industri. Klasifikasi kontroler analog industri. Klasifikasi kontroler analog industri. Kontroler analog industri dapat diklasifikasikan sesuai dengan aksi pengontrolannya sebagai berikut

  • AKSI KONTROL DASAR

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)

    Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) adalah sarana di atas tanah untuk menyalurkan tenaga listrik dari Pusat Pembangkit ke Gardu Induk (GI) atau dari GI ke GI lainnya yang terdiri dari kawat/konduktor yang direntangkan antara tiang – tiang melalui isolator – isolator dengan sistem tegangan tinggi (30 KV, 70 KV, dan 150 KV). (PLN, 1981)

  • Sistem Kerja Pintu Pengaman Jalur Perlintasan Kereta Api

    Pintu pengaman jalur kereta api dipasang pada jalur pertemuan antara jalan dan rel kereta api. Pintu pengaman ini akan bekerja untuk menghentikan kendaraan yang berada pada jalan agar tidak melintas di rel dikarenakan kereta api akan melintas.

Gambar Instalasi Listrik Rumah Tinggal

GAMBAR INSTALASI LISTRIK RUMAH TINGGAL



1.   PENGANTAR
      Untuk pemasangan suatu instalasi listrik, terlebih dahulu harus dibuat gambar-gambar rencananya berdasarkan denah bangunan, dimana instalasinya akan dipasang. Gambarnya harus jelas, mudah dibaca dan dimengerti. Gambar denah bangunannya biasanya disederhanakan. Dinding-dindingnya digambar dengan garis tunggal agak tipis. Saluran-saluran listriknya, karena lebih penting, digambar lebih tebal. Supaya    gambarnya     rapi,
harus dipilih tebal garis yang tepat.

2.   DENAH BANGUNAN
      Denah bangunan adalah suatu gambar yang menunjukkan lokasi dari berbagai ruangan dan kegunaannya, jendela, pintu, tangga, gang dan sebagainya pada suatu rumah tinggal tertentu. Denah-denah sebaiknya digambar dengan skala 1 : 100 atau 1 : 50 tergantung pada ukuran kertas yang digunakan dan pada luasnya bangunan. Gambar 1 memperlihatkan sebuah contoh denah dari suatu rumah tinggal sederhana.

3.   LAMBANG GAMBAR UNTUK DIAGRAM INSTALASI BANGUNAN
      (Lihat Lampiran)

4. GAMBAR INSTALASI
      Gambar instalasi adalah suatu gambar yang meliputi:
1)      Rancangan tata letak yang menunjukkan dengan jelas letak perlengkapan listrik beserta sarana kendalinya (pelayanannya), seperti titik lampu, kotak kontak, sakelar, motor listrik, PHB dan lain-lain;
2)      Rancangan hubungan perlengkapan listrik dengan alat pengendalinya seperti hubungan lampu dengan sakelarnya, motor dengan pengasutnya, dan dengan alat pengatur kecepatannya, yang merupakan bagian dari sirkit akhir atau cabang sirkit akhir;
3)      Gambar hubungan antara bagian sirkit akhir tersebut dalam butir 2) dan PHB yang bersangkutan, ataupun pemberian tanda dan keterangan yang jelas mengenai hubungan tersebut;
4)      Tanda ataupun keterangan yang jelas mengenai setiap perlengkapan listrik.


5.   CARA MEMBUAT GAMBAR INSTALASI
      Petunjuk-petunjuk di bawah ini dapat dipakai sebagai pedoman :
1.   Gambarlah denah bangunannya.
2.   Nyatakanlah penggunaan tiap-tiap ruangan dalam gambar, misalnya ruangan duduk, dapur dan seterusnya.
3.   Tentukanlah letak perlengkapan hubung baginya. Perlengkapan hubung bagi (PHB) harus dipasang di tempat yang mudah dicapai dari jalan masuk rumah.
4.   Gambarlah penempatan titik-titik lampu dan sakelar-sakelarnya serta hubungan antara sakelar dengan lampu yang dilayaninya. Sakelar untuk penerangan umum selalu ditempatkan di dekat pintu sehingga kalau pintunya dibuka sakelarnya dapat langsung dijangkau.
5.   Gambarlah penempatan kotak-kotak kontak dindingnya. Secara umum kotak kontak dinding sebaiknya dipasang tidak jauh dari sudut-sudut ruangan. Kotak kontak dinding yang dipasang di tengah-tengah dinding, besar kemungkinannya akan tertutup atau terhalang oleh suatu perabot sehingga kurang berfungsi.

6.   DIAGRAM GARIS GANDA DAN DIAGRAM GARIS TUNGGAL
      Pada cara menggambar dengan garis ganda setiap penghantar digambar dengan garis tersendiri seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2 memperlihatkan diagram garis ganda untuk sebuah sakelar kutub satu dengan satu titik lampu.


Gambar 2. Diagram garis ganda

      Gambar 3 memperlihatkan rangkaian yang sama dalam bentuk diagram garis tunggal. Dalam diagram garis tunggal penghantar-penghantar yang sejenis digambar dengan satu garis dengan beberapa garis lintang kecil.


Gambar 3. Diagram garis tunggal

Jumlah garis lintang ini menyatakan jumlah penghantar sejenis yang ada. Gambar-gambar berikut ini memperlihatkan diagram garis ganda dan diagram garis tunggal untuk beberapa jenis hubungan-hubungan sakelar.

*        Diagram instalasi sakelar, lampu dan kotak kontak :

Gambar 4a.

Gambar 4b.


*    Hubungan Sakelar Seri
            Sakelar seri berguna untuk memutuskan dan menghubungkan dua buah lampu atau dua buah kelompok lampu secara bergantian atau bersamaan.
Gambar 5a.

Gambar 5b.

*    Hubungan Sakelar Tukar (Hotel)
            Sakelar tukar digunakan untuk melayani satu lampu atau kelompok lampu dari dua tempat. Untuk itu digunakan dua sakelar tukar.

Gambar 6a

Gambar 6b.

7.   TUGAS
1.      Buatlah diagram garis tunggal dari instalasi berikut ini :

     
Gambar 7

2.      Buatlah diagram garis ganda dari instalasi yang diperlihatkan pada Gambar 8 berikut ini.

Gambar 8


3.      Buatlah gambar denah dengan skala 1 : 100 dan gambar instalasi dari rumah tinggal pada Gambar 1. 
Share:

Navgasi Darat

Pertanyaan paling mendasar ketika mendengar kata navigasi darat adalah:
1. Apa itu navigasi?
2. Apa itu navigasi darat?
3. Siapa yang mempelajarina?
4. Apa keuntungan mempelajjarinya?
Semua pertanyaan itu akan terjawab setelah membaca dan memahami artikel berikut ini.
Oke kawan - kawan petualang kita mulai belajar.
Ya g pertama adalah apa itu navigasi?
Navigasi secara asal katanya berasal dari bahasa yunani yaitu "navis" yang berarti arah dan " Agave" yang berarti perahu. Jadi secara arafiah diartikan sebagI arah perahu.  Sebelum menjawab pertanyaan ke dua. Saya akan cerita sedikit tentang awal mulanya navigasi itu. Sejarah navigasi itu dari arti katanya sangatlah mudah di tebak, jadi dahulu navigasi ini dipraktekkan oleh para nenek moyang kita(hehhee. ...kan nenek moyang kita seorang pelaut) hanya becand, jadi navigasi itu digunakkan oleh para pelaut. Seiring bertambahnya waktu, navigasi itu jadi berkembang. Jadi navigasi yang dipelajari jaman sekarang ada tiga, yaitu:
1. Navigazi darat
2. Navigazi laut
3. Navigasi udara.
Oke kawan - kawan, sampai di sini cukup jelas kan?
Baiklah kalau sudah jelas. Kita jawab pertanyaan berikutnya.

Share:

Sistem Kerja Pintu Pengaman Jalur Perlintasan Kereta Api


Sistem Kerja Pintu Pengaman Jalur Perlintasan Kereta Api
Pintu pengaman jalur kereta api dipasang pada jalur pertemuan antara jalan dan rel kereta api. Pintu pengaman ini akan bekerja untuk menghentikan kendaraan yang berada pada jalan agar tidak melintas di rel dikarenakan kereta api akan melintas. Gambar 21 di bawah ini menunjukan sistem kerja pintu perlintasan jalur kereta api, dimana datangnya kereta api dari dua arah,baik dari arah utara mupun dari arah selatan yang dilengkapi sensor photoelektrik.
GAMBAR 1. SISTEM KERJA PINTU PERLINTASAN KERETA API

Sensor photoelektri dipasang sebelum dan sesudah palang pintu pengaman (lihat gambar 21). Terdapat lima sensor yang dipasang sepanjang rel perlintasn kereta api. Sensor pertama (XA1 dan XA2) dipasang pada jarak 300 meter sebelum dan sesudah pintu pengaman. Sensor pertama digunakan untuk mendeteksi kedatangan kereta api, baik dari arah utara maupun arah selatan.
Sensor kedua (XB1 dan XB2) dipasang pada jarak 200 meter sebelum dan sesudah pintu pengaman. Sensor kedua ini digunakan untuk mendeteksi kereta api saat meninggalkan jalur perlintasan.
Sensor ketiga (XC) dipasang tepat pada pintu perlintasan kereta api. Sensor ketiga ini digunakan untuk mengaktifkan sensor kedua dan mengunci sensor pertama.
Setiap sensor dipasang pada sebuah tiang dengan mata sensor ganda. Tujuan dibuat dua mata sensor pada setiap tiang sensor adalah untuk menghindari pembacaan yang salah pada objek yang melintasi sensor selain kereta api. Dengan demikian sensor hanya dapat bekerja jika kedua mata sensor pada tiang terhalangi oleh kereta api.
Mata sensor hanya dipasang pada salah satu tiang sedangkan tiang pasanganya adalah sebuah reflektor untuk memantulkan sinar dari sensor. Kedua tiang ditegakkan saling berhadapan dan berseberangan terhadap rel dengan jarak sejauh 4 meter.
Gambar 22 menunjukan rancangan tiang sensor yang dipasang dua buah mata sensor serta pemasanganya di jalur rel kereta api.
                    

GAMBAR 2. BENTUK DAN PEMASANGAN SENSOR


Sistem pemasangan palang pintu, motor, sirine dan lampu tanda dilakukan sama seperti pemasangan standar palang pintu kereta api pada umumnya. Gambar 23 menunjukan pemasangan komponen-komponen palang pintu perlintasan kereta api standar untuk Indonesia.

GAMBAR 3. PEMASANGAN PALANG PINTU PERLINTASAN KERETA API
Palang pintu perlintasan kereta api di atas akan bekerja ketika sebuah kereta api yang terdeteksi oleh sensor  photoelektrik. Kemudian palang pintu berlahan menutup. Pada kondisi yang sama, lampu merah dan sirine akan menyala. Sirine akan berhenti berbunyi ketika palang sudah menutup sedangkan lampu merah tetap menyala.
Setelah kereta api selesai melintasi pintu jalur perlintasan dan mengaktifkan sensor photoelektrik yang lainya, palang pintu perlintasan berlahan membuka. Pada saat yang sama lampu tanda berubah menjadi hijau. Kondisi ini akan terus berulang terus selama kereta api hendak melintasi pintu jalur perlintasan, baik kereta yang datangnya dari jalur yang satu maupun jalur yang lainya.
Share:

Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)


Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)
Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) adalah sarana di atas tanah untuk menyalurkan tenaga listrik dari Pusat Pembangkit ke Gardu Induk (GI) atau dari GI ke GI lainnya yang terdiri dari kawat/konduktor yang direntangkan antara tiang – tiang melalui isolator – isolator dengan sistem tegangan tinggi (30 KV, 70 KV, dan 150 KV). (PLN, 1981)

Gambar 1. Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)

Bagian – bagian utama dari SUTT adalah terdiri dari: menara/tiang transmisi, isolator, kawat penghantar, dan kawat tanah.
1. Menara atau Tiang Transmisi
Menara atau tiang transmisi adalah suatu bangunan penopang saluran transmisi. Tiang menurut bentuk atau konstruksinya dibagi menjadi empat macam, yaitu: (PLN, 1981)

a. Tiang konstruksi baja, terbuat dari baja profil, disusun sedemikian rupa sehingga merupakan suatu menara yang telah diperhitungkan kekuatannya disesuaikan dengan kebutuhannya. Tiang jenis ini yang sering disebut dengan tower karena bentuk kontruksinya.

b. Tiang manesman, terbuat dari pipa baja, dimana ukuran – ukuran panjang, diameter, dan ketebalan dari pipa baja yang akan digunakan disesuaikan dengan keperluan.

c. Tiang beton bertulang, terbuat dari beton.

d. Tiang kayu, terbuat dari kayu ulin dan kayu besi yang tidak perlu diawetkan, sedangkan jenis rasamala, kruing, dan damar laut, sebelum dipergunakan, harus dilakukan pengawetan terlebih dahulu agar umur tiang kayu tersebut dapat lebih lama.


Sedangkan tiang menurut fungsinya, terdiri atas: (PLN, 1981)
a. Tiang penegang (tension/aspan tower)
Tiang penegang, di samping menahan gaya berat juga menahan gaya tarik dari kawat – kawat SUTT.

b. Tiang penyangga (suspension/dragh tower)
Tiang penyangga untuk mendukung atau menyangga dan harus kuat terhadap gaya berat dari peralatan listrik yang ada pada tiang tersebut.

c. Tiang sudut (angle tower)
Tiang sudut adalah tiang penegang yang berfungsi menerima gaya tarik akibat dari perubahan arah SUTT.
d. Tiang akhir (dead end tower)
 Tiang akhir adalah tiang penegang yang direncanakan sedemikian rupa sehingga kuat untuk menahan gaya tarik kawat – kawat dari satu arah saja. Tiang akhir ditempatkan di ujung SUTT yang akan masuk ke Gardu Induk.

e. Tiang transposisi
Adalah tiang penegang yang berfungsi sebagai tempat perpindahan letak susunan phasa kawat – kawat SUTT.


Pemilihan macam tiang yang akan dipakai, tergantung pada beberapa faktor, antara lain:
a. Lokasi atau keadaan medan yang akan dilewati saluran
b. Biaya pembangunan tiang
c. Biaya perawatan tiang
d. Bahan tiang yang diperoleh
e. Perkiraan lama pemakaian saluran

Jenis tiang yang banyak dipergunakan dalam penyaluran transmisi 150 KV adalah bangunan menara baja atau yang biasa disebut dengan tower SUTT 150 KV. Hal ini disebabkan karena jenis tower kurang memerlukan pengawasan, biaya perawatan kecil, dan dapat tahan lama.
Gambar 2. Jenis tiang menara baja/tower SUTT 150 KV

2. Isolator - isolator
Isolator yang digunakan pada SUTT adalah dari bahan porselen atau gelas dan berfungsi sebagai isolasi tegangan listrik antara kawat penghantar dengan tiang. Jenis isolatornya adalah jenis isolator piring, yang digunakan sebagai isolator penegang dan isolator gantung, dimana jumlah piringan isolator disesuaikan dengan tegangan sistem SUTT tersebut. Satu piring isolator untuk isolasi sebesar 15 KV, jika tegangan yang digunakan adalah 150 KV, maka jumlah piring isolatornya adalah 10 piringan.
Gambar 3. Isolator piring

3. Kawat Penghantar
Kawat penghantar berfungsi untuk mengalirkan arus listrik dari suatu tempat tempat ke tempat lainnya. (PLN, 1981) Jenis – jenis kawat penghantar yang biasa digunakan pada saluran transmisi adalah tembaga dengan konduktivitas 100% (CU 100%), tembaga dengan konduktivitas 97,5% (CU 97,5%) atau aluminium dengan konduktivitas 61% (Al 61%). Kawat penghantar aluminium terdiri dari berbagai jenis dengan lambang sebagai berikut:
AAC = ”All-Aluminium Conductor”, yaitu kawat penghantar yang seluruhnya terbuat dari aluminium.
AAAC = ”All-Aluminium-Alloy Conductor”, yaitu kawat penghantar yang seluruhnya terbuat dari campuran aluminium.

ACSR =”Aluminium Conductor Steel-Reinforced”, yaitu kawat panghantar aluminium berinti kawat baja.
ACAR =”Aluminium Conductor Alloy-Reinforced”, yaitu kawat penghantar aluminium yang diperkuat dengan logam campuran.Kawat penghantar tembaga mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan kawat penghantar aluminium karena konduktivitas dan kuat tariknya lebih tinggi. Tetapi kelemahannya ialah, untuk besar tahanan yang sama, tembaga lebih berat dari aluminium, dan juga lebih
mahal. Oleh karena itu, kawat penghantar aluminium telah menggantikan kedudukan tembaga. Penghantar dengan campuran aluminium (aluminium alloy) digunakan karena dapat memperbesar kuat tarik dari kawat aluminium. Sebagaimana diketahui bahwa letak antar tiang/menara saluran transmisi yang jauh (ratusan meter), maka dibutuhkan kuat tarik yang tinggi. Penghantar aluminium alloy yang digunakan adalah dari jenis ACSR. (T.S. Hutauruk, 1985:4)

4. Kawat tanah
Kawat tanah atau ground wires juga disebut sebagai kawat pelindung, gunanya untuk melindungi kawat – kawat penghantar atau kawat – kawat fasa terhadap sambaran petir. Jadi kawat tersebut dipasang di atas kawat fasa. Sebagai kawat tanah umumnya dipakai kawat baja (steel wires) yang lebih murah, tetapi tidaklah jarang digunakan ACSR. (T.S. Hutauruk, 1985: 4) Pada SUTT, jumlah kawat tanah yang digunakan ada yang menggunakan satu kawat tanah dan ada yang menggunakan dua kawat tanah. Agar dapat memenuhi fungsi kawat tanah sebagai pelindung terhadap sambaran langsung (direct stroke), kawat tanah tersebut harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Harus cukup tinggi di atas fasa konduktor dan agar dapat menangkap (intercept) pukulan langsung.
b. Harus mempunyai jarak aman (clearance) yang cukup terhadap konduktor pada tengah – tengah rentangan.
c. Tahanan kaki tower harus cukup rendah untuk memperkecil tegangan yang melintas pada isolator.
Gambar 4. SUTT dengan dua kawat tanah
Share:

Gangguan – gangguan pada SUTT 150 KV


Gangguan – gangguan pada SUTT 150 KV
1. Definisi Gangguan
Menurut Djiteng Marsudi (1990:v-18), gangguan didefinisikan sebagai kejadian yang menyebabkan bekerjanya relay dan menjatuhkan Pemutus Tenaga (PMT) di luar kehendak operator, sehingga menyebabkan putusnya aliran daya yang melalui PMT tersebut. Bagian SUTT yang paling sering terkena gangguan ada pada kawat transmisi (70% s.d. 80% dari seluruh gangguan). Hal ini disebabkan karena luas dan panjang kawat transmisi yang terbentang dan beroperasi pada kondisi udara yang berbeda – beda. (T.S. Hutauruk, 1985: 3)
Ditinjau dari sifatnya, gangguan pada SUTT 150 KV terdiri dari gangguan yang bersifat temporer dan bersifat permanen. (PLN: Pusdiklat)
a. Gangguan yang bersifat temporer
Gangguan temporer yaitu gangguan yang berlangsung singkat dan dapat hilang dengan sendirinya. Sebab gangguan ini dapat terjadi karena petir, burung, atau dahan pohon yang menyentuh kawat fasa SUTT dalam waktu singkat yang dapat menyebabkan terjadinya loncatan api yang dapat mengakibatkan hubung singkat. 
b. Gangguan yang bersifat permanen
Gangguan permanen yaitu gangguan yang berlangsung lama dan tidak dapat hilang dengan sendirinya. Gangguan ini baru bisa diatasi setelah gangguannya dihilangkan. Gangguan ini bisa disebabkan karena ada kerusakan peralatan, sehingga gangguan ini baru hilang setelah kerusakan ini diperbaiki atau karena ada sesuatu yang mengganggu secara permanen, misalnya kawat putus atau dahan yang menimpa kawat fasa SUTT. Gangguan temporer yang terjadi berkali – kali dapat menyebabkan timbulnya kerusakan peralatan yang akhirnya dapat menyebabkan gangguan yang bersifat permanen.
2. Penyebab Gangguan pada SUTT 150 KV
Menurut T.S. Hutauruk (1991:4), faktor – faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada SUTT adalah:
a. Petir
Berdasar pengalaman diperoleh bahwa sambaran petir sering mengakibatkan gangguan pada sistem tegangan tinggi.
b. Burung atau dedaunan
Burung atau dedaunan yang terbang dan menyentuh dua kawat penghantar SUTT baik antar fasa atau fasa dengan tower, maka dapat memungkinkan terjadinya loncatan bunga api listrik.
c. Polusi (debu)
Debu yang menempel pada isolator bisa bersifat konduktif, sehingga dapat menyebabkan loncatan bunga api listrik pada isolator tersebut.
d. Pohon yang tumbuh di dekat SUTT
Pohon yang tumbuh dekat dengan SUTT dapat menyebabkan jarak aman (clearance) berkurang. Jarak aman yang berkurang dapat berakibat timbulnya gangguan pada SUTT. 
e. Keretakan pada isolator
Bila terjadi keretakan pada isolator, maka secara mekanis, apabila ada petir yang menyambar akan terjadi arus yang tembus (breakdown) pada isolator. Ditinjau dari asalnya, penyebab gangguan dapat dibedakan menjadi:
a. Gangguan dari dalam, adalah gangguan yang terjadi oleh sebab kelainan pada peralatan itu sendiri.
b. Gangguan dari luar, adalah yang terjadi oleh sebab benda atau
makhluk atau alam yang menimpa pada peralatan. Ditinjau dari jenisnya, penyebab gangguan dibedakan menjadi:
a. Gangguan hubung singkat antar fasa
b. Gangguan hubung singkat fasa dengan tanah
c. Putus rangkaian
d. Penurunan nilai isolasi 
Menurut Djiteng Marsudi (1990:v-18), di pulau jawa, sebab gangguan yang paling utama pada SUTT adalah petir. Hal ini disebabkan karena memang jumlah petir di Indonesia tergolong banyak. Hal ini biasanya dinyatakan dengan Isokraunic Level (IKL), yaitu angka yang menunjukkan jumlah hari guruh pertahun. Angka IKL di pulau Jawa berkisar antara 20 sampai dengan 135.
Parameter – parameter yang mempengaruhi jumlah gangguan karena petir adalah:
a. Isokraunic Level (IKL)
b. Konfigurasi kawat tanah
c. Konstruksi tiang
d. Tahanan pentanahan
e. Andongan penghantar
Petir yang menyambar SUTT menimbulkan gelombang berjalan yang merambat ke berbagai arah dan menghasilkan pula gelombang – gelombang pantul yang berinterferensi satu dengan yang lain. Gelombang berjalan ini beserta hasil interferensi dengan pantulannya, apabila telah  mencapai nilai yang lebih besar daripada nilai isolasi dasar (Basic Isulation Level) dari peralatan SUTT maupun peralatan lainnya yang terhubung secara langsung dengan SUTT, dapat menimbulkan lompatan api yang menyangkut permukaan (flashover) pada peralatan tersebut yang mungkin menimbulkan gangguan dan kerusakan pada peralatan, terutama flashover ini tidak berhenti setelah tegangan kembali mencapai tegangan nominal dari SUTT. Petir juga dapat menyambar kawat kawat tanah pada SUTT 150 KV, dan jika nilai tahanan pentanahan dari kaki tower tinggi maka dapat terjadi flashover pada isolator yang dapat merusak isolator tersebut dan mengenai kawat fasa.

Share:

Sistem Transmisi

Sistem Transmisi
Pusat listrik atau sentral umumnya terletak jauh dari pemakai tenaga
listrik. Karena itu tenaga listrik disalurkan melalui kawat transmisi ke pemakai
tenaga listrik. Bagian dari sistem tenaga listrik adalah:

1. Pembangkit Tenaga Listrik
Tenaga listrik dibangkitkan oleh generator pada pusat listrik tenaga
(PLT). Macam – macam PLT yang ada dan dikembangkan di Indonesia
seperti:
a. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA),
b. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU),
c. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP),
d. Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG),
e. Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU),
f. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

2. Transformator Daya
Tegangan listrik yang dibangkitkan pada pusat pembangkit pada
umumnya antara 6 KV sampai 24 KV (T.S. Hutauruk, 1985:1). Untuk
menaikkan tegangan tersebut menjadi 30 KV sampai dengan 500 KV,
dibutuhkan transformator daya yaitu transformator penaik tegangan (step
up). Tujuan dari penggunaan tegangan yang lebih tinggi ini adalah untuk
memperkecil rugi daya dan jatuh tegangan pada saluran.

3. Jaring/Saluran Transmisi
Ada dua kategori saluran transmisi, yaitu: saluran udara (overhead
lines) dan saluran kabel tanah (underground cable). Saluran udara
menyalurkan tenaga listrik melalui kawat telanjang yang digantung pada
menara atau tiang transmisi dengan perantara isolator, sedangkan kabel
tanah menyalurkan tenaga listrik melalui kabel yang ditanam di bawah
permukaan tanah. 

4. Gardu Induk
Gardu induk digunakan sebagai transformasi tenaga listrik tegangan
tinggi 500 KV menjadi tegangan tinggi 150 KV atau dari tegangan tinggi
150 KV menjadi tegangan menengah 20 KV. Proses transformasi ini
menggunakan transformator penurun tegangan (step down).

5. Jaring Distribusi Primer
Digunakan untuk menyalurkan tenaga listrik dengan tegangan
menengah 20 KV.

6. Transformator Distribusi
Transformator distribusi menggunakan transformator jenis step down
untuk menurunkan tegangan menengah 20 KV menjadi tegangan rendah
220 V. Transformator distribusi ini terpasang sepanjang jaring distribusi
primer.

7. Jaring Distribusi Skunder
Berfungsi menyalurkan tegangan rendah 220 V untuk digunakan
oleh konsumen (masyarakat perumahan).
Yang termasuk dalam sistem transmisi adalah nomor 2, 3, dan 4,
sedangkan yang termasuk dalam sistem distribusi adalah nomor 5, 6, dan 7.
Tugas sistem transmisi adalah menyalurkan tenaga listrik dalam jumlah
besar ke pusat beban atau perusahaan – perusahaan pemakai tenaga listrik
dalam jumlah besar. Sedangkan sistem distribusi adalah menyalurkan tenaga
listrik dari gardu induk ke pemakai tenaga listrik dalam jumlah yang lebih
kecil dari sistem transmisi.
Sistem transmisi yang biasa dipakai untuk menyalurkan tenaga listrik
dalam jumlah besar adalah sistem transmisi arus bolak – balik 3 fasa, saluran
udara. Pada sistem transmisi saluran udara, kawat – kawat digantung pada
suatu tiang atau menara. Tegangan sistem transmisi adalah 30 KV sampai 700
KV. Adapun tegangan transmisi yang banyak digunakan di Indonesia adalah
dengan tegangan tinggi 150 KV dan dan tegangan ekstra tinggi 500 KV.
Dalam membuat rencana penyaluran tenaga listrik, harus diperhatikan:
1. pemilihan tegangan 
2. pemilihan jenis kawat dan penampang kawat
3. pemilihan sistem perlindungan terhadap gangguan – gangguan
4. kontinuitas penyaluran tenaga listrik
5. pembebasan tanah yang dilalui
Namun, dari semua faktor tersebut, masih ada faktor yang menentukan
yaitu faktor ekonomis.
Share:

CARA DAPAT UANG HANYA DENGAN MENGIKUTI SURVEI


     Anda orang yang sedang membutuhkan uang dan sering online, serta anda juga suka dalam kegiatan survei? ipanelonline.com membantu anda dalam meyalurkan kesukaan anda dalam survei dan pastinya anda akan mendapat imbalan atas partisipasi anda mengikuti survei tersebut. caranya cukup mudah, anda hanya mendaftar pada ipanelonline.com, ikuti form pendaftaran dan ikuti survei maka anda akan mendapatkan poin yang dapat ditukarkan dengan uang dan di transfer ke rekening anda. untuk mendaftar anda dapat mengklik DISINI

Share:

NAVIGASI DARAT (penentuan titik kontrol dalam plotting lintasan )


BAB I

PENDAHULUAN 
I.1 Latar Belakang
Sebagai orang yang sering melakukan petualangan/pendakian di alam bebas, pengetahuan tentangnavigasi darat dan terutama bagaimana medan yang akan dijalani adalah hal yang harus diketahui. Sering kali seorang petualang dalam melakukan kegiatan petualangan/pendakian selalu melakukan pembukaan jalur baru dengan sudut kompas, plotting lintasan dan juga menggunakan peta keluaran tahun yang cukup lama. Dimana pada medan tertentu pembukaan jalur dengan sudut kompas tidak mungkin dilakukan dengan berjalan lurus pada medan sebenarnya, dan juga saat menggunakan peta keluaran tahun yang cukup lama karena pasti sudah ada penyimpangan sudut arah utara yang timbul karena ada perbedaan arah utara yang ditunjukkan oleh Kutub Utara, Kutub Magnetis dan Peta. Begitu juga saat melakukan plotting lintasan, sering tidak dipahami bahwa untuk plotting lintasan ada beberapa hal yang harus diketahui dan dipersiapkan terlebih dahulu seperti penentuan titik – titik kontrol dalam melakukan plotting lintasan untuk akurasi plotting lintasan. Untuk itu penulis dalam tulisan ini membahas tentang bagaimana cara menentukan titik kontrol pada plotting lintasan.

I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.1 Maksud
Penyajian makalah ini dimaksudkan bagi orang – orang penggiat alam bebas yang akan mengadakan suatu perjalanan/pendakian agar lebih memperhatikan segala persiapan yang dibutuhkan khususnya pengetahuan dan keterampilan pada saat melakukan kegiatan alam bebas. Dengan demikian para penggiat alam bebas akan mampu melakukan perjalanan dengan keyakinan dan mental yang lebih siap lagi.

I.2.2 Tujuan
Penulis menyajikan makalah ini untuk menambah wawasan para pembaca dalam materi Navigasi Darat, khususnya menambah pengetahuan tentang beberapa tanda di alam yang bisa dijadikan acuan atau titik kontrol untuk menentukan posisi kita di peta saat di medan sebenarnya.













BAB II
LANDASAN TEORI

II.1 Plotting Lintasan
Plotting adalah menggambar atau membuat titik di peta/membuat garis di peta. Membuat/menggambar tanda – tanda tertentu di peta. Plotting membantu kita dalam membaca peta. Dalam teknik plotting lintasan ada beberapa tanda medan tertentu sebagi patokan dalam pembuatan jalur. Jalur ini bersifat fleksibel tetapi menyesuaikan kondisi medan dengan tetap berpatokan tanda medan tertentu sebagai patokan pergerakannya. Contoh tanda medan yang bias dijadikan patokan adalah punggungan, lembah, sungai dan tempat yang memungkinkan untuk menembak suatu objek dan mendapatkan sudut kompasnya. Dalam tulisan ini, penentuan tanda – tanda medan tersebut yang akan dibahas sebagai titik kontrol.

II.2 Sudut Kompas ( azimuth ) dan Back Azimuth
Azimuth ialah besar sudut antara utara magnetis (nol derajat) dengan titik/sasaran. Azimuth disebut juga sudut kompas. Jika membidik sebuah tanda medan, dan memperolah sudutnya, maka sudut itu juga dinamakan sebagai azimuth. Kebalikannya adalah back azimuth. Adapun cara penentuan back azimuth adalah sebagai berikut:
Jika azimuth yang kita peroleh lebih besar dari 180º maka back azimuth sama dengan azimuth dikurangi 180º. Misal anda membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200º. Back azimuthnya adalah 200º- 180º = 20º.
Jika azimuth yang kita peroleh lebih kecil dari 180º, maka back azimuthnya sama dengan 180º ditambah azimuth. Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak, dan diperoleh azimuth 160º, maka back azimuthnya adalah 180º+160º = 340º.
II.3 Peta Topografi
Peta topografi adalah jenis peta yang ditandai dengan skala besar dan detail, biasanya menggunakan garis kontur dalam pemetaan modern. Sebuah garis kontur merupakan kombinasi dari dua segmen garis yang berhubungan namun tidak berpotongan, ini merupakan titik elevasi pada peta topografi. Karakteristik unik yang membedakan peta topografi dari jenis peta lainnya adalah peta ini menunjukkan kontur topografi atau bentuk tanah di samping fitur lainnya seperti jalan, sungai, danau, dan lain – lain. Karena peta topografi menunjukkan kontur bentuk tanah, maka peta jenis ini merupakan jenis peta yang paling cocok untuk kegiatan alam bebas dari peta kebanyakan. Saat ini ada tiga instansi yang dapat mengeluarkan peta topografi untuk masyarakat umum, yaitu yang dikeluarkan oleh Direktorat Geologi, Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakorsurtanal). Pusat Survey dan Pemetaan TNI (PUSURTA), mempunyai dan membuat peta topografi yang rinci.
Dalam peta topografi terdapat beberapa bagian – bagian yang menjelaskan setiap isi dari peta topografi tersebut. Adapun bagian – bagian peta topografi adalah sebagi berikut :
1.      Judul peta
Judul peta adalah judul yang diambil dari bagian terbesar wilayah yang tercantum dalam satu sheet peta. Biasanya terletak di bagian atas peta atau di samping untuk peta buatan badan survai tanah nasional (Bakosurtanal), contoh : Berastagi.

2.      Legenda Peta
Legenda peta adalah penjelasan dari simbul simbul yang tercantum dalam peta. Bagian ini adalah komponen yang sangat vital karena kita akan jadi buta dalam membaca peta jika tidak ada legendanya.



3.      Skala Peta
Skala peta adalah bagian yang menunjukan ukuran dalam lembar peta dengan medan sebenarnya. Skala ini ada dua jenis yaitu skala garis dan skala angka. Dalam peta topografi biasanya dicantumkan duaduanya. (Contoh skala peta 1:25000, 1:50000 dan 1:100000) cara membacanya adalah 1:25000 berarti 1 cm dalam peta adalah 25000cm di medan sebenarnya atau 250 m.

4.      Garis Koordinat
Garis Koordinat adalah jarring - jaring dalam peta yang terdiri dari garis vertical dan garis horizontal. Guna garis ini adalah untuk batas perhitungan koordinat. Koordinat peta dikenal ada dua jenis yaitu koordinat grid dan koordinat geografis. Koordinat geografis merupakan koordinat dari jarring-jaring bumi yang terdiri garis lintang untuk horizontal dan garis bujur untuk vertical. Koordinat grid adalah jarring jarring koordinat local yang dipakai untuk acuan pengkoordinatan dalam peta.

5.      Garis ketinggian ( garis kontur )
Garis Ketinggian atau biasa disebut garis kontur adalah garis yang menyerupai sidik yang menunjukkan titik ketinggian yang sama dalam peta. Karena merupakan tanda dari ketinggian yang sama, maka garis ini tidak akan pernah saling memotong tapi bisa bersinggungan. Lokasi yang lebih rendah akan melingkari lokasi yang lebih tinggi, itulah cirri garis kontur. Atau bisa juga disebutkan garis sebelah dalam adalah lebih tinggi dari garis sebelah luar. Dalam peta interval atau jeda beda ketinggian antara garis kontur biasanya di tunjukan di dekat lokasi legenda. Untuk peta skala 1:25000 interval konturnya biasanya adalah 12,5 meter sedangkan peta skala 1:50000 biasanya interval konturnya adalah 25 meter. Terjemahannya adalah bila interval kontur 25 meter, maka jarak antara garis kontur yang satu dengan yang lainnya di medan sebenarnya memiliki beda tinggi secara vertical 25 meter. Garis kontur dengan pola huruv V atau runcing biasanya menunjukan sebuah jurang/sungai, dan garis kontur dengan pola U atau berpola Lengkung biasanya menunjukan sebuah punggungan dan O merupakan puncak atau Kawah.
6.      Tahun Pembuatan Peta
Tahun Pembuatan Peta merupakan keterangan yang menunjukan tahun terakhir peta tersebut diperbaharui. Hal ini sangat penting karena kondisi permukaan bumi bisa berubah sewaktu - waktu. Contoh tahun pembuatan peta pada peta Berastagi, lembar 0619 – 31 adalah tahun 1977.

7.      Deklinasi
Deklinasi yaitu garis keterangan yang menunjukan beda Utara Peta dan Utara Magnetik (Utara Kompas). Deklinasi ini direvisi tiap 5 tahun sekali. Kenapa ada perbedaan antara Utara peta dan Utara sebenarnya dan Utara Magnetik. Seperti kita ketahui utara bumi kita ditunjukan di kutub utara. Sedangkan sumbu utara magnet bumi sebenarnya ada di sebuah kepulauan di dekat dataran Green Land. Setiap tahun karena rotasi Sumbu bumi ini mengalami pergeseran rata-rata 0,02 detik bisa ke timur dan ke barat. Jadi utara sebenarnya bisa ditentukan dari mengkonversi antara utara magnetic dengan utara Peta. Biasanya akan dicantumkan di setiap lembar peta.Tujuh bagian tersebut merupakan bagian pokok terpenting yang selalu ada dalam tiap lembar peta. Bagian lain adalah merupakan bagian pelengkap. Yang biasanya berisi indek peta, keterangan pembuatan peta, dan pemroduksi peta.


II.4 Koordinat
Sistem koordinat geografi digunakan untuk menunjukkan suatu titik di Bumi berdasarkan garis lintang dan garis bujur. Garis lintang yaitu garis vertikal yang mengukur sudut antara suatu titik dengan garis katulistiwa. Titik di utara garis katulistiwa dinamakan Lintang Utarasedangkan titik di selatan katulistiwa dinamakan Lintang Selatan. Garis bujur yaitu horizontal yang mengukur sudut antara suatu titik dengan titik nol di Bumi yaitu Greenwichdi LondonBritania Rayayang merupakan titik bujur 0° atau 360° yang diterima secara internasional. Titik di barat bujur 0° dinamakan Bujur Baratsedangkan titik di timur 0° dinamakan Bujur Timur. Suatu titik di Bumi dapat dideskripsikan dengan menggabungkan kedua pengukuran tersebut. System koordinat yang resmi digunakan ada dua macam, yaitu :
II.4.1 Koordinat Grid
Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 0,2 mm).

II.4.2 Koordinat Geografis
Dalam koordinat geografis (Geographical Coordinate) sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3,7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30"), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60").

II.5 Konversi Koordinat Grid ke Koordinat Geografis
Dalam hal ini, koordinat grid akan dikonversikan kedalam koordinat geografis. Dalam setiap lembar peta, koordinat geografisnya tertera pada sudut kiri dan kanan bagian bawah dan atas. Pengkonversian koordinat grid ke koordinat geografis dapat dilakukan berdasarkan ketentuan sebagi berikut :

Lebar satu lembar peta UTM adalah 55,65 cm.
Lebar satu lembar peta LCO adalah 37,1 cm.
Dalam peta UTM :
1 : 100.000      = 30’
1: 50.000         = 15’
1 : 25.000        = 7,5’ ( 7’30” )
dan dalam peta LCO :
1 : 100.000      = 20’
1: 50.000         = 10’
1 : 25.000        = 5’

Jadi cara untuk menentukan koordinat geografis adalah sebagi berikut :


agar dapat melihat rumus silahkan download filenya DISINI
Keterangan :

n          =  lebar satu lembar peta sesuai ketentuan
m         =  menit satu lembar peta sesuai ketentuan



Contoh :
Peta xxxxxx
Lembar Peta 0xxx-xx
Edisi x-xxxx
Peta LCO
Skala 1 : 50.000
Langkah pertama :
Koordinat grid dari objek pada peta 373556 dan koordinat geografisnya adalah 98o32’ BT dan 03o10’ LU.
Langkah kedua :
Jarak batas kiri ke titik objek  = 20,4 cm
Jarak batas bawah ke titik objek = 12,6 cm
Langkah ketiga :
agar dapat melihat rumus silahkan download filenya DISINI



Jadi objek tersebut diukur batas kiri terletak pada 98o32’ + 5’30” = 98o37’30” BT, dan dengan cara yang sama di peroleh objek tersebut terletak pada 03o13’24” LU.

II.6 Cara Penentuan Posisi                        
II.6.1 Orientasi
Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (atau dengan kata lain menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya). Sebelum anda mulai orientasi peta, usahakan untuk mengenal dulu tanda-tanda medan sekitar yang menyolok dan posisinya di peta. Hal ini dapat dilakukan dengan pencocokan nama puncakan, nama sungai, desa dll. Jadi minimal anda tahu secara kasar posisi anda dimana. Orientasi peta ini hanya berfungsi untuk meyakinkan anda bahwa perkiraan posisi anda dipeta adalah benar.

Langkah-langkah orientasi peta:
1.      Cari tempat terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang mencolok.
2.      Letakkan peta pada bidang datar.
3.      Samakan utara peta dengan utara kompas, dengan demikian letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang dihadapi.
4.      Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol di sekeliling dan temukan tanda-tanda tersebut di dalam peta, lakukan untuk beberapa tanda medan.
5.      Ingat tanda-tanda medan medan itu. Bentuk dan tempat di medan sebenarnya maupun di peta

II.6.2 Resection
Prinsip resection adalah menentukan posisi kita dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik ini paling tidak membutuhkan dua tanda medan yang terlihat jelas dan dapat dibidik (untuk resection biasanya dilakukan dimedan terbuka agar tanda medan terlihat dengan jelas). Tidak setiap tanda medan harus dibidik, minimal dua, tapi posisinya sudah pasti.
Langkah-langkah melakukan resection :
1.      Lakukan orientasi peta
2.      Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal 2 buah
3.      Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik. Kompas orienteering dapat digunakan, namun kurang akurat.
4.      Pindahkan sudut bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan.
5.      Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita dipeta.


II.6.3 Intersection
Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai. Sebelum intersection kita sudah harus yakin terlebih dahulu posisi kita dipeta. Biasanya sebelum intersection, kita sudah melakukan resection terlebih dahulu.

Langkah-langkah melakukan intersection adalah:
1.      Lakukan orientasi peta
2.      Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta.
3.      Bidik obyek yang kita amati
4.      Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta
5.      Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 1-3
6.      Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.


II.7 Konversi Sudut Peta ke Sudut Kompas
Sudut Peta adalah sudut yang dibentuk oleh 2 buah garis (garis yang menuju utara peta dan garis yang terbentuk oleh kompas ke arah sasarannya). Sedangkan, Sudut Kompas adalah sudut yang dibentuk oleh 2 buah garis (garis yang menuju utara magnetis dan garis yang terbentuk oleh kompas ke arah sasarannya). Dalam peta topografi, kita mengenal 3 arah utara, untuk itu saat menentukan arah, harus memulainya dengan menentukan arah titik 0, yaitu :
1.      Utara Sebenarnya (TN = TRUE NORTH) adalah arah utara yang ditunjukkan oleh garis meridian menuju ke kutub utara.

2.      Utara Peta (GN = GRID NORTH) adalah arah utara yang ditunjukkan oleh garis-garis tegak yang terdapat pada karvak.

3.      Utara Magnetis (MN = MAGNETIC NORTH) adalah arah utara yang ditunjukkan oleh jarum kompas yang selalu mengarah pada kutub magnetis bumi (poros bumi).

II.7.1 IKHTILAF
Dalam navigasi darat ada di kenal dengan istilah Ikhtilaf. Ikhtilaf yaitu penyimpangan sudut arah utara yang timbul karena ada perbedaan arah utara yang ditunjukkan oleh Kutub Utara, Kutub Magnetis dan Peta. Ikhtilaf ada beberapa jenis yaitu :
1.      Ikhtilaf Peta adalah sudut yang terbentuk oleh Utara sebenarnya dengan Utara petabaik ke Barat maupun ke Timur.

2.      Ikhtilaf Magnetis adalah sudut yang terbentuk oleh Utara Sebenarnya dengan Utara Magnetis baik ke Barat maupun ke Timur.

3.      Ikhtilaf Utara Peta adalah sudut yang terbentuk oleh Utara peta dengan Utara Magnetis baik ke Barat maupun ke Timur dengan utara peta sebagai patokan.

4.      Variasi Magnetis ( VM ) adalah perbedaan antara ikhtilaf magnetis pada waktu-waktu berlainan yang mengalami perubahan karena pengaruh dari rotasi dan revolusi bumi. Perubahan ini selalu diukur dan diperiksa akurasinya setiap 5 tahun

Pada peta topografi, VM biasanya ditulis di bagian bawah untuk menentukan deklinasi dan VM. Disamping itu dinyatakan pula VM rata-rata tiap tahun. Untuk mencari Ikhtilaf peta, harus dilihat dekat batas kiri/kanan peta dimana tertulis GRID DECLINATION yang artinya IKHTILAF PETA.


II.7.2 INCREASE & DECREASE
Bila VM bertambah dan makin bertambah tiap tahunnya, maka variasi tersebut dikatakan dengan istilah INCREASE. Bila VM berkurang dan makin berkurang tiap tahunnya, maka variasi tersebut dikatakan dengan istilah DECREASE.

II.7.3 PERHITUNGAN SUDUT PETA dan SUDUT KOMPAS
Perubahan pada sudut peta dan sudut kompas tiap tahunnya perlu disesuaikan perubahannya pada tahun saat peta tersebut dibuat dengan tahun sekarang.
Contoh :
Diketahui :
Peta Berastagi, Lembar 0619 – 31, skala 1:50.000
Tahun peta 1980
sudut peta suatu objek adalah 145o, variasi magnetis tahun 1980 adalah- 0o22’ dan variasi magnetisnya berubah setiap tahunnya -0o03’.
Jawab :
Maka VM tahun 1980 – 2013
= -3’ x (2013 – 1980) = -3’ x 33 = 199’ = -3˚ 19’
Variasi magnetis tahun 2013 = VM tahun 1980 ± VM tahun 2013
= -22’ -  3˚19’
= -3˚41’ (setiap sudut kompas harus dikurang 3˚41’ dibulatkan menjadi -3o)
Maka Sudut kompasnya adalah 145˚ - 3˚ = 142˚
Jadi untuk menentukan sudut peta hanyalah mengurangkan sudut kompas dengan variasi magnetis tahun sekarang jika increase dan menambahkan sudut kompas dengan variasi magnetis jika decrese.
Contoh :
Diketahui sudut kompas 210o, jadi sudut petanya adalah 210o+3o= 213o.

BAB III
PEMBAHASAN
III.1 Perencanaan Jalur Lintasan
Dalam hal ini, penulis mengambil contoh kasus merencanakan perjalan dengan plotting lintasan dari desa Nageri Gugung ke DL. Takur – Takur. Jadi dalam tulisan ini, penulis akan memplotting lintasan, menentukan titik – titik kontrol, sudut tanjakan dan sudut kompas antara titik – titik kontrol dengan menambahakan atau mengurangkan perubahan variasi magnetis tahun 2013 sehingga perjalanan dapat di manajemen dengan baik. Dalam merencanakan plotting jalur lintasan perlu di perhatikan kontur ( medan ) yang akan dilalui. Setelah memperhatikan medan yang akan dilalui, lalu dibuatlah jalur lintasan pada peta dan kemudian menyusun sebuah perencanaan dengan membuat penampang lintasan yang akan diplotkan kedalam sebuah peta tematik.
III.1.1 Membuat Penampang Lintasan
Penampang lintasan adalah penggambaran secara proporsional bentuk jalur lintasan jika di lihat dari samping dengan menggunakan garis kontur sebagi acuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa peta topografi yang dua dimensi dan sudut pandangnya dari atas agak sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana bentuk lintasan yang sebenarnya, terutama menyangkut ketinggian.
Manfaat penampang lintasan adalah :
1.      Sebagai pertimbangan dalam menuyusun perencanaan perjalanan.
2.      Memudahkan kita dalam menggambarkan kondisi keterjalan dan kecuraman medan.
3.      Dapat mengetahui titik – titk ketinggian dan jarak dari tanda medan tertentu.
4.      Menambah akurasi penerjemahan dari peta topografi ke penampang.



III.2 Cara Menghitung Sudut Peta dan Sudut Kompas
Dari titik kontrol yang sudah di tentukan, kita mencari sudut petanya. Penentuan sudut peta dari titik kontrol pertama ke titik kontrol yang kedua, kemudian dari titik kontrol yang kedua ke titik kontrol yang ketiga, dan begitu selanjutnya sampai titik kontrol terakhir. Sudut peta yang di dapat itu kemudian di buat menjadi sudut kompas dengan cara sebagai berikut :
Diketahui sudut peta dari titik kontrol satu ke titik kontrol dua adalah 145o, tahun peta adalah 1980, variasi magnetis tahun 0o22’ dan variasi magnetisnya berubah setiap tahunnya 0o03’.
Maka VM tahun 1980 – 2013
= 3’ x (2013 – 1980) = 3’ x 33 = 199’ = 3˚ 19’
Variasi magnetis tahun 2013 = VM tahun 1980 ± VM tahun 2013
= -22’ -  3˚19’
= -3˚41’ (setiap sudut kompas harus dikurang 3˚41’ dibulatkan menjadi 3o)
Maka Sudut kompasnya adalah 145˚ - 3˚ = 142˚.
Jadi sudut peta setiap titik kontrol pada lintasan yang sudah di buat dipeta adalah seperti yang terdapat pada table 3.1 berikut ini.
Tabel. 3.1 Rancangan titi Kontrol Jalur Lintasan
Jalur Lintasan : DL Takur – takur
Di Peta Berastagi, Edisi I – 1982, Lembar 0619 – 31
Titik Kontrol
Sudut Peta
Sudut Kompas
1 – 2
145o
142 o
2 – 3
115o
112 o
3 – 4
101o
98 o
4 – 5
115o
112 o
5 – 6
131o
128 o
6 – 7
145o
142 o
7 – 8
157o
154 o
8 – 9
157o
154 o
III.3 Cara menghitung sudut tanjakan dan Membuat Tabel dari Jalur Lintasan
Menghitung sudut tanjakan berguna untuk membantu pendaki dalam menentukan lama perjalanan sesuai dengan ketentuan tingkat kesulitan medan dari besar sudut tanjakannya. Berikut ini, penulis akan menentukan sudut tanjakan antar titik kontrol dari jalur lintasan yang sudah di plotting di peta. Dalam penentuan titik kontrol ada acuan tingkat kesulitan dalam melewati medan berdasarkan sudut tanjakannya, berikut ini tingkat kesulitan dalam melewati medan berdasarkan sudut kemiringan medan.
Tabel 3.2 Tingkat Kesulitan berdasarkan sudut kemiringan
Sudut Kemiringan
Tingkat kesulitan
Keterangan
0 o – 2,5o
Mudah
Tanjakan mudah dilalui
2,5 o – 5 o
Agak mudah
Bias dilalui roda dua dan empat
5 o – 7,5 o
Agak keras
Bias jalan kaki naik turun
7,5 o – 10 o
Keras
Berjalan mendaki
10 o – 15 o
Sangat keras
Berjalan mendaki
20 o – 30 o
Terjal
Mendaki dengan sulit
30 o – 45 o
terjal
Rock climbing
Sumber :

Dari ketentuan di atas dapat disimpulkan tingkat kesulitan melewati medan saat membuka jalur lintasan baru. Dari hasil pengukurun di peta, diketahui jarak pengukuran titik kontrol satu ke titik kontrol kedua di peta adalah 0,8 cm dan interval ketinggiannya adalah 2 x 25m = 50 m (dilihat dari banyak garis kontur yang di lewati dari titik kontrol pertama ke titik kontrol kedua, dimana selang ketinggian antara garis kontur adalah 25 m). jadi perhitungan menentukan jarak datar dan sudut kemiringannya adalah seperti berikut :

Diketahui :     jarak pengukuran pada peta = 0,8 cm
                        Interval ketinggiannya = 50 m
Ditanya :        a.) jarak datar?
                        b.) sudut kemiringan?
Jawab :
a.)    Jarak datar       = jarak pengukuran pada peta x skala peta
= 0,8 cm x 50.000
= 40000 cm = 400 m
b.)    Sudut kemiringan       
agar dapat melihat rumus silahkan download filenya DISINI


Jadi dengan cara yang sama diperoleh sudut kemiringan antar titik kontrol seperti yang terdapat pada tabel berikut :
Tabel 3.3 Sudut Kemiringan Antar Titik Kontrol
Jalur Lintasan : DL Takur – takur
Di Peta Berastagi, Edisi I – 1982, Lembar 0619 – 31
Titik Kontrol
Jarak di peta
Jarak datar
Interval
Sudut kemiringan
Keterangan
1 – 2
0,8 cm
400 m
50   m
7,18o
Agak keras
( Bisa ditempuh dengan jalan kaki )
2 – 3
1,2 cm
600 m
175 m
16,95o
Terjal
( bisa mendaki tapi sulit )
3 – 4
0,7 cm
350 m
150 m
25,37o
Terjal
( bisa mendaki tapi sulit )
4 – 5
0,5 cm
250 m
25   m
5,7o
Agak keras
( Bisa ditempuh dengan jalan kaki )
5 – 6
0,8 cm
400 m
175 m
25,9o
Terjal
( bisa mendaki tapi sulit )
6 – 7
0,8 cm
400 m
100 m
14,47o
Sangat keras
( dapat dilewati dengan berjalan mendaki )
7 – 8
1    cm
500 m
100 m
11,5o
Sangat keras
( dapat dilewati dengan berjalan mendaki )
8 – 9
0,7 cm
350 m
75   m
8,21o
Sangat keras
( dapat dilewati dengan berjalan mendaki )

Dari titik kontrol yang sudah direncanakan kita dapat menentukan koordinat grid, koordinat geografis dan ketinggiannya. Koordinat geografis dan ketinggiannya dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut :
Langkah pertama :
Koordinat grid dari objek pada peta 352573 dan koordinat geografisnya adalah 98o30’ BT dan 03o00’ LU.
Langkah kedua :
Jarak batas kiri ke titik objek  = 23,2cm
Jarak batas bawah ke titik objek = 53,2 cm
Langkah ketiga :
agar dapat melihat rumus silahkan download filenya




Jadi objek tersebut diukur batas kiri terletak pada 98o30’ + 6’12” = 98o36’12” BT, dan dengan cara yang sama di peroleh objek tersebut terletak pada 03o14’18” LU.
Untuk ketinggian tiap titik kontrol dapat di tentukan dengan cara sebagai berikut ini :
Diketahui ketinggian puncak DL. Takur – takur adalah 1523 mdpl, interval antara titik kontrol ke-8 sampai dengan titik kontrol ke-9 adalah 75 m.
Maka, ketinggian titik control ke-8 adalah 1523 mdpl – 75 m = 1448 mdpl. Dengan cara yang sama dilakukan dari titik kontrol terakhir samapai ke titik kontrol pertama diperoleh koordinat dan ketinggian  tiap titk kontrol sebagai berikut :





Tabel 3.4 Rancangan Titik Kontrol Jalur Lintasan
Jalur Lintasan : DL Takur – takur
Di Peta Berastagi, Edisi I – 1982, Lembar 0619 – 31
No.
Titik Kontrol
Sudut Peta
Sudut Kompas
Titik Ketinggian ( mdpl )
Keterangan
Koordinat Grid
Koordinat Geografis
1.
352573
98o36’2” BT
03o14’18” LU
145o
142 o
± 673 mdpl
Desa terakhir Nageri Gugung
2.
353568
98o36’18” BT
03o14’6” LU
115o
112 o
± 723 mdpl
Awal menaiki punggungan DL. Takur - takur
3.
361566
98o36’36” BT
03o13’51” LU
101o
98 o
± 898 mdpl
Sebelah kiri sungai, kana nada jurang, dan sudut tanjakan lebih sulit
4.
367565
98o37’51” BT
03o13’6” LU
115o
112 o
± 1048 mdpl
Pertemuan dua punggungan
5.
372563
98o37’6” BT
03o13’48” LU
131o
128 o
± 1073 mdpl
Punggungan tidak terlalu lebar
6.
374561
98o37’12” BT
03o12’42” LU
145o
142 o
± 1248 mdpl
Punggungan makin kecil
7.
376558
98o37’32” BT
03o13’30” LU
157o
154 o
±1348 mdpl
Terdapat daerah datar bias untuk Camp
8.
378555
98o37’32” BT
03o13’18” LU
157o
154 o
±1448 mdpl
Punggungan kecil dan mulai menanjak lagi
9.
385553
98o37’34” BT
03o13’10” LU


±1523 mdpl
Pilar DL. Takur – takur





BAB IV
PENUTUP

IV.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa plotting lintasan dengan menentukan titik – tik kontrol merupakan salah satu alternative dalam meminimalisir resiko dalam melakukan suatu kegiatan pendakian. Dengan cara penentuan titik kontrol, seorang pendaki mampu mengatur perjalannya dengan baik. Menentukan titik kontrol dalam melakukan plotting lintasan dan merencanakan perjalanan yang matang merupakan suatu pengetahuan yang sangat bermanfaat untuk kemajuan pengetahuan seorang pendaki gunung.

IV.2 SARAN
Dalam hal ini, penulis berharap agar para petualang yang hendak melakukan perjalanan/pendakian, khususnya untuk pendaki yang melakukan pembukaan jalur baru  harus merencanakannya dahulu dengan matang dengan menentukan titik – titik kontrol sebagai acuan agar meminimalisir resiko yang terjadi di lapangan, tentunya juga hal – hal lain yang berhubungan dengan kegiatan ini. Penulis juga menyarankan kalau plotting lintasan semakin akurat lagi di lakukan jika menggunakan altimeter dan GPS.

Share: