• Konstruksi Generator Sinkron

    Pada dasarnya konstruksi dari generator sinkron adalah sama dengan konstruksi motor sinkron, dan secara umum biasa disebut mesin sinkron. Ada dua struktur kumparan pada mesin sinkron yang merupakan dasar kerja dari mesin tersebut, yaitu...

  • Driver Motor DC Untuk Mengatur Arah Putaran

    ksi kontrol dasar yang digunakan dalam kontroler analog industri. Klasifikasi kontroler analog industri. Klasifikasi kontroler analog industri. Kontroler analog industri dapat diklasifikasikan sesuai dengan aksi pengontrolannya sebagai berikut

  • AKSI KONTROL DASAR

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)

    Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) adalah sarana di atas tanah untuk menyalurkan tenaga listrik dari Pusat Pembangkit ke Gardu Induk (GI) atau dari GI ke GI lainnya yang terdiri dari kawat/konduktor yang direntangkan antara tiang – tiang melalui isolator – isolator dengan sistem tegangan tinggi (30 KV, 70 KV, dan 150 KV). (PLN, 1981)

  • Sistem Kerja Pintu Pengaman Jalur Perlintasan Kereta Api

    Pintu pengaman jalur kereta api dipasang pada jalur pertemuan antara jalan dan rel kereta api. Pintu pengaman ini akan bekerja untuk menghentikan kendaraan yang berada pada jalan agar tidak melintas di rel dikarenakan kereta api akan melintas.

Tampilkan postingan dengan label Bagi Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bagi Ilmu. Tampilkan semua postingan

Peraturan Perundangan di Indonesia tentang Kehutanan, Penata Ruang, Keterbukaan informasi publik, Keterbukaan Informasi Publik, Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Perkebunan, Pertambangan Mineral dan Batu Bara, Pemerintahan Daerah, Desa

Undang-Undang Nomor 41/1999 tentang Kehutanan
Undang-Undang ini merupakan pengganti dari Undang-Undang nomor 5/1967 tentang Pokok-Pokok Kehutanan. Undang-undang nomor 41/1999 membawa nuansa pengaturan yang memiliki perbedaan mendasar dengan masukkan peran serta masyarakat, hak masyarakat atas informasi kehutanan dan keterlibatan dalam pengelolaan hutan secara umum. Dalam undang-undang ini terdapat dua status hutan yaitu hutan negara dan hutan hak.
Meskipun demikian, undang-undang ini belum secara jelas memberikan pengakuan kepada masyarakat adat yang berdiam di kawasan hutan. Hutan adat dianggap sebagai masih bagian dari hutan negara yang berada di wilayah masyarakat adat. Dalam undang-undang ini meski terdapat pengakuan terhadap masyarakat adat, namun dalam praktik pengelolaan dan pemanfaatan hutan tetap dilakukan di atas hutan negara.

Undang-Undang Nomor 26/2007 tentang Penataan Ruang
Undang-Undang Penataan Ruang nomor 26 tahun 2007 yang menggantikan Undang-Undang nomor 24 tahun 1992. Dalam UU 26/2007 penataan ruang ditujukan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Dengan tujuan tersebut, penataan ruang pada akhirnya diharapkan menjadi sebuah titik temu yang harmonis antara penggunaan sumber daya alam dan dan pemanfaatan ruang sekaligus mencegah terjadinya dampak negatif akibat pemanfaatan ruang.
Sifat mendasar dari penataan ruang adalah mewujudkan sebuah keterpaduandan keserasian pemanfaatan ruang pada berbagai sektor sehingga pelaksanaan penataan ruang yang konsisten akan meminimalisasi konflik dan meningkatkan keterpaduan antar sektor serta wilayah.
Pemerintah pusat dan daerah diamanatkan untuk menyebarluaskan informasi rencana umum dan rincian tataruang, pengaturan zonasi dan petunjuk pelaksanaan penataan ruang. Penataan ruangdiselenggarakan oleh pemerintah dengan melibatkan masyarakat, dimana pelibatan tersebut mencakup perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian.

Undang-Undang Nomor 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik
Ketentuan dalam peraturan ini secara garis besar memberikan landasan bagipublik untuk dapat memperoleh informasi, dan memperkuat badan publik untukmenyiapkan infrastruktur maupun sumber daya manusia. Dalam hubungannya tata kelola hutan, informasi kehutanan dapat diperoleh dan merupakan hak masyarakat yang diatur lewat badan publik yang mengurusi pengelolaan hutan.
Kementerian Kehutanan menindaklanjuti undang-undang ini dengan menerbitkan Permenhut No. 2 tahun 2010 tentang Sistem Informasi Kehutanan dan Permenhut No. 7 tahun 2011 tentang Pelayanan Informasi Publik dilingkup Kementerian Kehutanan.

Undang-Undang Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Undang-undang ini merupakan revisi dari Undang-Undang nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam hubungannya dengan tata kelola hutan dan lahan, undang-undang ini menyinggung perihal kebakaran hutan, dimana lewat perundangan ini memberikan kewenangan bagi Kementerian Lingkungan hidup untuk menentukan kriteria baku kerusakan lingkungannya.
Terkait dengan hak atas informasi, peraturan ini memberikan jaminan bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dalam proses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).


Undang-Undang Nomor 18/2004 tentang Perkebunan
Salah satu yang diatur didalam undang-undang ini adalah keharusan bagi pihak yang mengajukan izin perkebunan untuk bermusyawarah terlebih dahulu (apabila sudah terdapat hak di atas tanah tersebut) dengan masyarakat atau masyarakat hukum adat (apabila tanah tersebut adalah tanah ulayat) sehingga sesuai dengan pengaturan tersebut, masyarakat memiliki sebuah landasan hukum untuk dapat berpartisipasi dalam proses pemberian izin perkebunan.
Undang-undang ini ditindaklanjuti dengan Permentan nomor 98/2013 tentang pedoman perizinan usaha perkebunan yang berhubungan dengan pemberian izin bagi para pelaku usaha budidaya perkebunan. Dalam kaitannya dengan tata kelola hutan, meskipun tidak terlalu tegas, peraturan ini memperhatikan Inpres nomor 16/2011 tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan serta Inpres nomor 6/2013 tentang penundaan pemberian izin baru dan penyempurnaan tata kelola hutan alam primer dan lahan gambut.

Undang–Undang Nomor 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba)
Undang-Undang ini merupakan pengganti dari Undang-Undang nomor 11/1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Dalam hubungannya dengan tata kelola hutan dan lahan undang-undang ini mengatur kegiatan pertambangan dinyatakan tidak dapat dilaksanakan di tempat yang dilarang untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan sebelum memperoleh izin dari instansi pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan (pasal 134, ayat 2).
Dalam hubungannya dengan nilai tambah di dalam negeri, undang-undang ini mewajibkan komoditas pertambangan untuk diolah di dalam negeri sebelum diekspor. Meskipun tidak berhubungan langsung dengan tata kelola hutan dan lahan, larangan ini berpengaruh terhadap pemberian izin terhadap usaha pertambangan dan eksploitasi minerba yang dilakukan serta cukup berpengaruh terhadap para pelaku usaha dalam menanamkan investasi dalam bidang pertambangan.


Undang–Undang Nomor 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah
Undang-undang ini adalah pengganti dari Undang-Undang nomor 32/2004 tentang Pemerintah Daerah yang dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan dan tuntutan penyelenggaran pemerintahan daerah.
Dalam undang-undang ini sektor kehutanan dikategorikan dalam urusan pemerintahan daerah pilihan konkuren (pasal 12), meskipun urusan penataan ruang dan lingkungan hidup dikategorikan dalam urusan pemerintahan wajib. Dalam pasal 14, diatur tentang penyelenggaraan urusan pemerintah dalam bidang kehutanan dibagi antara pemerintah pusat dan daerah provinsi dengan perkecualian pengelolaan taman hutan raya di kabupaten/kota menjadi kewenangan dari daerah kabupaten dan kota.

Undang-Undang Nomor 6/2014 tentang Desa
Terdapat lebih 33 ribu desa yang berbatasan dengan kawasan hutan, jika hal ini tidak menjadi perhatian maka masalah tenurial, status desa maupun kekayaan budaya yang selama ini dikenal memelihara dan melindungi akan bergeser dan punah.
Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa negara mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (UUD 1945, pasal 18B: 2). Salah satu poin penting Undang-Undang Desa ini adalah adanya regulasi yang memberi kepastian hukum bagi keberadaan masyarakat adat melalui pembentukan Desa Adat.
Desa Adat akan diakui apabila memiliki kesatuan masyarakat adat. Kesatuan masyarakat adat harus memiliki unsur; mempunyai wilayah adat, pemerintahan adat, benda/harta adat, hukum adat, sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 1 ayat 1 UU Desa. UU desa juga mengakui hak-hak kesatuan masyarakat adat. Desa Adat bukan hanya bertujuan untuk mengakui hak-hak ulayat masyarakat adat, tetapi juga undang-undang ini mengatur agar masyarakata adat bisa mengurus dirinya sendiri.

Share:

FAKTOR YANG DIHADAPI ATLIT PADA KEJUARAAN PANJAT TEBING

Faktor-Faktor Kegagalan Panjat Tebing
Faktor ini bisa terjadi karna seorang atlit sering mengalami kekalahan dalam mengikuti kejuaraan panjat tebing seperti mengalami demam panggung, kurang latihan, rasa percaya diri terlalu tinggi dan sikap mental yang kurang kuat.
Adapun faktor untuk mencegah kegagalan seorang atlit panjat tebing yaitu :
1. Faktor internal untuk mencegah kegagalan atlit panjat tebing dan
2. Faktor eksternal untuk mencegah kegagalan atlit panjat tebing

1. Faktor Internal untuk Mencegah Kegagalan Atlit Panjat Tebing
Dalam faktor internal ini hal yang harus dilakukan seorang atlit untuk mencegah kegagalan dalam kejuaraan panjat tebing adalah menanamkan niat di dalam diri sendiri, melatih mental dengan cara sering tampil di depan orang banyak, dan juga memberi motivasi kepada atlit supaya atlit bersemangat lagi untuk latihan dan juga mempelajari segala teknik dalam panjat tebing.
Adapun yang perlu diperhatikan untuk mengatasi kegagalan dari segi faktor internal adalah sebagai berikut :
1. Daya Tahan Tubuh
2. Kekuatan 
3. Keterampilan 
4. Mental dan Sikap
5. Berpikir Positif

2. Faktor Eksternal untuk Mencegah Kegagalan Atlit Panjat Tebing
1. Teknik-Teknik dasar panjat tebing
2. Cedera
3. Sistem latihan

Sistem Latihan Secara Periodesasi pada Panjat Tebing
Seorang atlit masih sering salah didalam latihan fisik dan tidak sesuai dengan prosedur latihan fisik yang dibuat oleh FPTI sehingga setiap bertanding seorang atlit tersebut akan cepat kehabisan powernya. Adapun cara mengatasi faktor kegagalan yang dihadapi atlit dalam latihan fisiknya supaya tidak gagal didalam kejuaraan panjat tebing yaitu :
1. Fokus 
2. Variasi Siklus Latihan
3. Tahapan-Tahapan Latihan
4. Menggabungkan Semua Skill

.1. Fokus
Penampilan pemanjatan kita akan lebih cepat, baik jika kita fokus pada satu atau dua target latihan skill dahulu. Dengan fokus pada satu titik area skill yang dilatih, secara tidak langsung energi kita mengalir dan hasil kemajuan skill akan terlihat lebih memuaskan. Jika seorang melakukan aktifitasnya maka yang perlu ditanamkan ke dalam diri pemanjat tersebut ialah kepeduliannya terhadap aktifitas pemanjatan serta niat dan kemauan pemanjat itu sendiri. Agar kedepannya pemanjat tersebut dapat fokus untuk melatih daya ledak (power), daya tahan (endurance) dan kemampuannya (skill).
.2. Variasi Siklus Latihan
Adapun variasi siklus latihannya yaitu :
1. Berlari 
Merupakan olahraga yang dapat dilakukan kapan saja, banyak manfaat bagi tubuh pada saat kita melakukan olahraga ini, adapun manfaat nya seperti melatih pernafasan, jantung, metabolisme, memperkuat kinerja paru-paru.

2. Pull Up
Merupakan latihan dasar yang tidak mudah untuk dilakukan. Siapa pun pasti mengakuinya kalau latihan satu ini cukup sulit dilakukan, apalagi bagi para atlet. Pull up dapat melatih otot lengan, termasuk otot-otot yang terlibat saat jari-jari kamu menggenggam.


3. Push Up
Untuk menjaga agar tulang belakang tetap lurus. Saat terjadi gerakan naik turun terjadi perubahan beban termasuk pada otot-otot disekitar tulang belakang dan perut.
 
4. Sit Up
Merupakan olahraga yang bisa dimana saja dilakukan karena tidak perlu memanfaatkan ruangan yang besar serta olah raga yang murah meriah, adapun manfaat dari sit up yaitu untuk melatih otot-otot perut.

5. Berenang
Bermanfaat untuk : membentuk otot, memperkuat fungsi paru-paru dan jantung, menambah tinggi badan, self safety, membakar kalori, melatih pernafasan. Berenang adalah salah satu jenis olah raga yang mampu meningkatkan kesehatan seseorang yang juga merupakan olahraga tanpa gaya gravitasi bumi (non weightbarring). Berenang terbilang minim risiko cedera fisik, karena saat berenang seluruh berat badan ditahan.

6. Panjat Tebing
Dalam variasi latihan fisik panjat tebing bagi pemula, latihan memanjat sangat dibutuhkan bagi seorang pemanjat untuk mengetahui teknik pegangan dan pijakan yang akan digunakan dalam melakukan pemanjatan dan juga sekaligus dapat melatih kekuatan pegangan dan pijakannya. Serta dapat juga mengasah kemampuannya dalam melakukan pemanjatan.

3. Tahapan-Tahapan Latihan
Sebagaimana diketahui sebelumnya, tujuan dari variasi siklus tahapan latihan keseluruhan tak lain untuk menuju puncak kemajuan penampilan utama pemanjat. Jika kita tidak mengatur dari awal apa yang terlebih pada tahap awal dahulu dilatih dan apa yang selanjutnya dilatih pada tahapan berikutnya dan seterusnya, hal ini bisa saja mengganggu kemajuan latihan atlit tersebut. Dalam menjalankan sisitem periode latihan ini seorang atlit yang akan memulai aktifitas dalam memanjat akan meningkatkan power, daya tahan, serta skillnya. Tahapan awal latihan pemusatan latihan pada pondasi fisik dasarseorang atlit panjat yang bertujuan membangun stamina agar siap menerima tahapan latihan berikutnya.
Jadi dalam pembentukan seorang atlit pemula menjadi atlit yang siap tampil dalam kejuaraan memanjat akan membutuhkan latihan rutin dalam jangka waktu 3 bulan. Dalam waktu 3 bulan tersebut pemanjat itu akan terus diberi arahan sampai ia mencapai peforma yang maksimal dan siap untuk tampil pada kejuaraan panjat tebing. Adapun daftar latihan dalam 3 bulan sebagai berikut.
:Minggu pertama
Jarak (meter) Waktu (menit) Frekuensi/minggu
      2000   8.30 –   9.30            3x
      2800 12.00 – 13.00            3x
      3600 17.00 – 18.00            3x

Keterangan : berlari dilakukan pada hari senin, rabu, jumat, dengan frekuensi 3 kali pulang pergi (PP) waktu yang seminggu pada pagi, siang, sore.
Jenis latihan Banyaknya Selang istirahat Frekuensi/hari
       Pull up        10 kali        2 menit          2 kali
      Push up        20 kali        2 menit          2 kali
        Sit up        20 kali        2 menit          2 kali
     Berenang 1 kali seminggu Sesuai kebutuhan              -
  Latihan panjat 3 kali seminggu Sesuai kebutuhan              -

Minggu kedua
Jarak (meter) Waktu (menit) Frekuensi/minggu
      2400   8.30 – 9.00            3x
      3200 12.00 – 13.00            3x
      4000 17.00 – 18.00            3x

Keterangan : berlari dilakukan pada hari senin, rabu, jumat dengan frekuensi 3 kali pulang pergi (PP) waktu yang seminggu pada pagi, siang, sore.
Jenis latihan Banyaknya Selang istirahat Frekuensi / hari
Pull up 20 kali 2 menit 2 kali
Push up 30 kali 2 menit 2 kali
Sit up 30 kali 2 menit 2 kali
Berenang 1 kali seminggu Sesuai kebutuhan -
Latihan panjat 3 kali seminggu Sesuai kebutuhan -


Minggu ketiga
Jarak (meter) Waktu (menit) Frekuensi / minggu
2400 8.30 – 9.00 3x
3400 12.00 – 13.00 3x
4000 17.00 – 18.00 3x

Keterangan : berlari dilakukan pada hari senin, rabu, jumat dengan frekuensi 3 kali pulang pergi (PP) waktu yang seminggu pada pagi, siang, sore.
Jenis latihan Banyaknya Selang istirahat Frekuensi / hari
Pull up 30 kali 2 menit 2 kali
Push up 40 kali 2 menit 2 kali
Sit up 40 kali 2 menit 2 kali
Berenang 1 kali seminggu Sesuai kebutuhan -
Latihan panjat 3 kali seminggu Sesuai kebutuhan -

Minggu keempat
Jarak (meter) Waktu (menit) Frekuensi / hari
2800 8.30 – 9.00 3x
3800 12.00 – 13.00 3x
4400 17.00 – 18.00 3x

Keterangan : berlari dilakukan pada hari senin, rabu, jumat dengan frekuensi 3 kali pulang pergi (PP) waktu yang seminggu pada pagi, siang, sore.
Jenis latihan Banyaknya Selang istirahat Frekuensi / hari
Pull up 40 kali 2 menit 2 kali
Push up 50 kali 2 menit 2 kali
Sit up 50 kali 2 menit 2 kali
Berenang 1 kali seminggu Sesuai kebutuhan -
Latihan panjat 3 kali seminggu Sesuai kebutuhan -

Minggu kelima
Jarak (meter) Waktu (menit) Frekuensi / minggu
3200 8.30 – 9.00 4x
4200 12.00 – 13.00 4x
4800 17.00 – 18.00 4x

Keterangan : berlari dilakukan pada hari senin, rabu, jumat, sabtu dengan frekuensi 4 kali seminggu pulang pergi (PP) waktunya pada pagi, siang, sore.
Jenis latihan Banyaknya Selang istirahat Frekuensi / hari
Pull up 50 kali 2 menit 3 kali
Push up 60 kali 2 menit 3 kali
Sit up 60 kali 2 menit 3 kali
Berenang 1 kali seminggu Sesuai kebutuhan -
Latihan panjat 3 kali seminggu Sesuai kebutuhan -

Minggu keenam
Jarak (meter) Waktu (menit) Frekuensi / minggu
3600 8.30 – 9.00 4x
4600 12.00 – 13.00 4x
5200 17.00 – 18.00 4x

Keterangan : berlari dilakukan pada hari senin, rabu, jumat, sabtu dengan frekuensi 4 kali seminggu pulang pergi (PP) waktunya pada pagi, siang, sore.
Jenis latihan Banyaknya Selang istirahat Frekuensi / hari
Pull up 60 kali 2 menit 3 kali
Push up 70 kali 2 menit 3 kali
Sit up 70 kali 2 menit 3 kali
Berenang 1 kali seminggu Sesuai kebutuhan -
Latihan panjat 4 kali seminggu Sesuai kebutuhan -

Minggu ketujuh
Jarak (meter) Waktu (menit) Frekuensi / minggu
4000 8.30 – 9.00 4x
5000 12.00 – 13.00 4x
5600 17.00 – 18.00 4x

Keterangan : berlari dilakukan pada hari senin, rabu, jumat, sabtu dengan frekuensi 4 kali seminggu pulang pergi (PP) waktunya pada pagi, siang, sore.
Jenis latihan Banyaknya Selang istirahat Frekuensi / hari
Pull up 70 kali 2 menit 3 kali
Push up 80 kali 2 menit 3 kali
Sit up 80 kali 2 menit 3 kali
Berenang 1 kali seminggu Sesuai kebutuhan -
Latihan panjat 4 kali seminggu Sesuai kebutuhan -

Minggu kedelapan
Jarak (meter) Waktu (menit) Frekuensi / minggu
4400 8.30 – 9.00 4x
5400 12.00 – 13.00 4x
6000 17.00 – 18.00 4x

Keterangan : berlari dilakukan pada hari senin, rabu, jumat, sabtu dengan frekuensi 4 kali seminggu pulang pergi (PP) waktunya pada pagi, siang, sore.
Jenis latihan Banyaknya Selang istirahat Frekuensi / hari
Pull up 80 kali 2 menit 3 kali
Push up 90 kali 2 menit 3 kali
Sit up 90 kali 2 menit 3 kali
Berenang 1 kali seminggu Sesuai kebutuhan -
Latihan panjat 4 kali seminggu Sesuai kebutuhan -

Minggu kesembilan
Jarak (meter) Waktu (menit) Frekuensi / minggu
4600 8.30 – 9.00 5x
5600 12.00 – 13.00 5x
6200 17.00 – 18.00 5x

Keterangan : berlari dilakukan pada hari senin, selasa, rabu, jumat, sabtu dengan frekuensi 4 kali seminggu pulang pergi (PP) waktunya pada pagi, siang, sore.
Jenis latihan Banyaknya Selang istirahat Frekuensi / hari
Pull up 90 kali 2 menit 4 kali
Push up 100 kali 2 menit 4 kali
Sit up 100 kali 2 menit 4 kali
Berenang 1 kali seminggu Sesuai kebutuhan -
Latihan panjat 5 kali seminggu Sesuai kebutuhan -

Minggu kesepuluh
Jarak (meter) Waktu (menit) Frekuensi / minggu
4600 8.30 – 9.00 5x
5600 12.00 – 13.30 5x
6200 17.00 – 18.30 5x

Keterangan : berlari dilakukan pada hari senin, selasa, rabu, jumat, sabtu dengan frekuensi 5 kali seminggu pulang pergi (PP) waktunya pada pagi, siang, sore.
Jenis latihan Banyaknya Selang istirahat Frekuensi / hari
Pull up 100 kali 2 menit 4 kali
Push up 110 kali 2 menit 4 kli
Sit up 110 kali 2 menit 4 kali
Berenang 1 kali seminggu Sesuai kebutuhan -
Latihan panjat 5 kali seminggu Sesuai kebutuhan -

Minggu kesebelas
Jarak (meter) Waktu (menit) Frekuensi / minggu
4700 8.30 – 9.00 5x
5700 12.00 – 13.30 5x
6300 17.00 – 18.30 5x

Keterangan : berlari dilakukan pada hari senin, selasa, rabu, jumat, sabtu dengan frekuensi 5 kali seminggu pulang pergi (PP) waktunya pada pagi, siang, sore.
Jenis latihan Banyaknya Selang istirahat Frekuensi / hari
Pull up 110 kali 2 menit 4 kali
Push up 120 kali 2 menit 4 kali
Sit up 130 kali 2 menit 4 kali
Berenang 1 kali seminggu Sesuai kebutuhan -
Latihan panjat 6 kali seminggu Sesuai kebutuhan -

Minggu keduabelas
Jarak (meter) Waktu (menit) Frekuensi / minggu
5000 8.30 – 9.00 5x
6000 12.00 – 13.30 5x
6500 17.00 – 18.30 5x

Keterangan : berlari dilakukan pada hari senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu dengan frekuensi 6 kali seminggu pulang pergi (PP) waktunya pada pagi, siang, sore.
Jenis latihan Banyaknya Selang istirahat Frekuensi / hari
Pull up 120 kali 2 menit 4 kali
Push up 130 kali 2 menit 4 kali
Sit up 140 kali 2 menit 4 kali
Berenang 1 kali seminggu Sesuai kebutuhan -
Latihan panjat 6 kali seminggu Sesuai kebutuhan -

4. Menggabungkan Semua Skill
Pada tahap menggabungkan semua skill para pemanjat akan menggabungkan semua teknik, kekuatan dan daya tahan sebelumnya sudah dilatih dengan tujuan agar oleh pemanjat dapat mencapai target yang diinginkan. Sistim periodisasi latihan ini pada intinya untuk membantu pola latihan menjadi lebih terarah, spesifik dan adanya perbedaan setiap tahapan menuntut kita untuk tetap fokus pada proses peningkatan dari setiap tahapan dan juga fokus pada area latihan skill yang berbeda-beda selama menjalani tahapan akhir persiapan penampilan puncak tersebut. Jadi kesimpulannya adalah dimana skill juga perlu bagi atlit 

 Teknik-Teknik Dasar Panjat Tebing
Adapun teknik dasar yang dipakai oleh atlet untuk mengatasi faktor kegagalan pada kejuaraan panjat tebing.
1. Face Climbing
2. Friction / Slab Climbing
3. Fissure Climbing
1. Face Climbing
Adalah yang dimana atlit memanfaatkan tonjolan poin yang ada di permukaan papan bouldering tersebut sehingga atlit bisa menggunakan atau memakai teknik ini baik di tebing alam dan tebing buatan. Adapun Teknik Face Climbing dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Handholds
Hold ada bermacam-macam bentuk, ukuran dan posisi.
2. Fingerholds
Hold yang lebih kecil dari handhold, dimana jari-jari hanya menempel kira-kira satu ruas, disebut fingerhold.
3. Pinchgrip
Pada suatu yang akan ditemui jenis pegangan yang untuk memegangnya harus ‘mencubit’ dengan menekankan jari-jari dan ibu jari pada arah yang berlawanan.

2. Friction / Slab Climbing
Teknik ini hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Dimana Ini dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, kekasaran permukaan cukup untuk menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesekan terbesar diperoleh dengan membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik dan pembebanan maksimal di atas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik, sehingga pemanjatan dapat dilakukan dengan lebih mudah.


3. Fissure Climbing
Teknik ini memanfaatkan celah yang digunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak.
Teknik Fissure Climbing dibagi menjadi lima yaitu :
1. Jamming
Pada tebing-tebing batu sering dijumpai crack yang terlalu lebar untuk dapat dipakai sebagai pijakan atau pegangan.
2. Chimney
Pada kondisi tertentu akan dijumpai sebentuk cerobong (Chimney)di tebing.
3. Bridging
Teknik memanjat pada celah vertical yang lebih besar (gullies).
4. Layback
Teknik ini dipergunakan pada crack vertikal ataupun tonjolan vertikal di tebing yang cukup panjang.
5. Undercling 
Dasar teknik ini, tekanan tangan dan kaki pada arah yang berlawanan.

Share:

Sejarah, Penegertian, dan Jenis Kompetisi Panjat Tebing

Sejarah Panjat Tebing
Aktifitas panjat tebing sudah dikenal sejak lama bahkan masyarakat tradisional sudah melakukan pemanjatan untuk perlindungan dan sumber kehidupan masyarakat dulu, seperti di daerah pantai sampai kekawasan kars untuk mencari makanan sehari-hari mereka. Tetapi faktor keselamatan mereka dan tingkat resiko yang dihadapi sangat tinggi karna peralatan yang mereka gunakan tidak memadai. Pertama kali panjat tebing dikenal di Kawasan benua eropa tepatnya dikawasan pegunungan alpen sebelum terjadinya perang dunia I. Pada awal tahun 1910 di negara Austria mulai diperkenalkan cincin kait (carrabiner) dan paku tebing (piton) yang terbuat dari besi baja.
Panjat tebing masuk ke Indonesia seiring dengan perkembangnya jaman dan berkembangnya teknik mendaki. Pada tahun 1976 herry suliztiarto asal dari Surabaya yang menjadi mahasiswa seni rupa ITB, memperkenalkan panjat tebing kepada masyarakat/pemuda sekitar Surabaya tersebut. Pada saat itu dia mencoba menaklukkan tebing-tebing alam di gunung kapur citatah karna dia terdorong dan mempunyai impian memanjat tebing dan ingin seperti seperti dalam buku From Hill Walking to Alpine Climbing karya Allan Blackshaw. Pada peristiwa tersebut dia kemudian menjadi tonggak sejarah berdirinya organisasi olahraga alam bebas yang mengkhususkan pada kegiatan pemanjatan dengan nama Skygers Amateur Rock Climbing Group.
Pada tahun 1980 kegiatan panjat tebing memasuki awal baru yang dimana kegiatan ini bukan lagi bersifat petualang melainkan telah menjadi olahraga prestasi danpada tahun 1987, pertama kalinya diadakan lomba panjat tebing alam yaitu,di pantai Jimbaran bali. Pada tahun 1988 mulai diperkenalkan dinding panjat tebing buatan oleh pemanjat perancis yang datang ke Indonesia. Sekaligus harry suliztiarto membentuk wadah sebagai tempat penyaluran hobi dan aspirasi untuk memanajemen kegiatan panjat tebing agar berjalan dengan baik dan kemudian nama federasi panjat gunung dan panjat tebing Indonesia (FPGPTI) diganti menjadi federasi panjat tebing Indonesia (FPTI)pada saat itulah panjat tebing semakin berkembang dan melahirkan atlit-atlit Indonesia.
Pada tahun 1990 digelar panjat dinding nasional (LPDN) di Jakarta dengan ketinggian 15 meter dengan bentuk bangunan empat sisi dan juga menyelenggarakan pendakian puncak cartenz pyramid dan puncak jaya. Pada tahun 1991 indonesia pertama kalinya mengirim empat atlit panjat tebing di kejuaraan Oceania-australia tetapi hanya andreas dan deden sutisna yang mendapat peringkat yaitu empat dan lima. Dengan keikutsertaannya itu telah membuka mata dunia panjat tebing internasional, bahwa Indonesia tlah memiliki atlit Indonesia bersekala internasional. Pada saat itu juga FPTI mengeluarkan peraturan panjat dinding pertama bukan hanya itu juga pengda jatim bekerja sama dengan impala Univ. merdeka malang yang mengadakan climbing party di lembah kera dan juga diikuti oleh puluhan pemanjat lainnya.

II.2. Pengertian Panjat Tebing
Panjat tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing yaitu merupakan olah raga pendakian gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya dan juga dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45o dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu.
Panjattebing juga disebut sebagai olahraga yang mengutamakan kelenturan, kekuatan / daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team serta ketrampilan dan pengalaman setiap individu untuk menyiasati tebing itu sendiri.Dalam menambah ketinggian dengan memanfaatkan cacat batuan maupun rekahan / celah yang terdapat ditebing tersebut serta pemanfaatan peralatan yang efektif dan efisien untuk mencapai puncak pemanjatan.

II.3. Jenis-Jenis Kejuaraan atau Perlombaan Panjat Tebing
II.3.1. Bouldering Competition
Bouldering adalah olah raga seni panjat memanjat di bebatuan besar, tebing ataupun dinding yang relatif tidak terlalu tinggi, dengan ketinggian antara 2-5 meter tanpa menggunakan pengaman tali ataupun harness yang ada hanya matras yang diletakkan dibawah untuk mengantisipasi jatuhnya pemanjat. Dalam gerakannya mementingkan aspek jimnastik dengan kelincahan dan kekuatan tenaga penuh. Perlombaan kategori boulder ini biasanya dipertandingkan pada tebing buatan dengan ketinggian maksimal dengan ketentuan bagian tubuh paling bawah pemanjat tidak boleh lebih dari 3 meter diatas matras keselamatan. Pemanjatan jalur pendek atau boluder dilakukan tanpa tali dan dilengkapi dengan matras pendaratan untuk keamanan. Jumlah jalur buolder yang berhasil diselesaikan menentukan peringkat pemanjat. Kompetisi buolder normal biasanya terdiri dari bapak kualifikasi dengan 5 jalur pemanjatan, bapak semi-final dengan 4 jalur pemanjatan dan bapak final dengan 4 jalur pemanjatan yang harus diselesaikan. Sedangkan dalam perlombaan bouldering yang dinilai hanya point bonus dan top.


II.3.2. Lead Climbing Competition
Lead climbing adalah teknik memanjat jalur pemanjatan dimana pemanjat pertama memasang peralatan pengaman dan diamankan oleh seorang pengaman belayer dari bawah. Di Indonesia dalam lomba lead dibedakan menjadi dua yaitu top rope dan top runer. Top rope yaitu dimana tali atau anchor sudah dipasang dari atas sehingga pemanjat tinggal memanjat jaluryang sudah disiapkan sedangkan top runer yaitu pemanjat memanjat dari bawah dengan mengaitkan tali pengaman ke quickdraw yang sudah dipasang pada hanger, dan runer terakhir yang dipasang pada jalur pemanjatan menjadi top untuk pemanjat mencapainya. Penilaian dari kategori ini adalah poin terjauh atau tertinggi yang dipegang oleh pemanjat. Dalam setiap pemanjatan sendiri biasanya dibatasi oleh waktu, antara 5-7 menit tergantung dari ketinggian atau tingkat kesulitan jalur yang dibuat oleh route setter atau pembuat jalur yang sudah terlebih dahulu ditentukan oleh panitia penyelenggara.
II.3.3. Speed Climbing Competition
Speed climbing adalah salah satu kategori perlombaan dimana dua pemanjat beradu cepat untuk mencapai top dengan tali yang sudah terpasang pada anchor. Indonesia saat ini mempunyai banyak atlit speed yang sudah meraih prestasi pada tingkat internasional.

Gambar II.3.3. Speed Climbing Competition
Adapun speed climbing yang diperlombakan di Indonesia ada tiga yaitu speed track, speed classic, dan speed world record.
a. Speed TrackAdalah kategori speed climbing yang karakter wallnya sudah terdapat pegangan tanpa dipasang point atau hold untuk pemanjatan.
b. Speed ClassicMerupakan kategori speed climbing dengan dua pemanjat beradu cepat untuk menepuk top atas yang telah juri pasang untuk finish atau top.
c. Speed world recordMerupakan kategori speed climbing yang poin atau hold nya mempunyai bentuk atau karakter yang khusus untuk speed world record dengan dua pemanjat yang beradu cepat untuk menepuk top atas yang telah juri pasang untuk finish atau top.

Share:

METODE PENELITIAN Ice Breaking

A.    Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yakni “pendekatan yang lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisis terhdap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah”. 

Metode penelitian yang dipakai adalah metode deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasikannya. 

Penelitian ini menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan. Uraian kesimpulan didasari oleh angka yang diolah tidak secara terlalu dalam. Kebanyakan pengolahan datanya didasarkan pada analisis persentase dan analisis kecenderungan.

B.     Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah mahasiswa psikologi Universitas HKBP Nommensen stambuk 2016. Objeknya adalah Kompetensi atau keterampilan Pengelolaan pembelajaran melalui metode ice breaking di dialam kelas dalam  melaksanakan tugas atau tanggungjawabnya dalam Pendidikan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Kompetensi yang dimaksud  adalah Sebuah Kompetensi Yang Dimiliki Oleh Pendidik dalam mengelola kegiatan belajar mengajar Pendidikan  melalui metode ice breaking, yaitu:
1.      Efektifitas penggunaan ice breaking
2.      Tepat situasi dalam pembelajaran
3.      Suasana pembelajaran yang menyenangkan


C. Data dan Sumber Data
1. Data
a. Data Pokok
Kompetensi yang dimaksud Penulis adalah Sebuah Kompetensi Yang Dimiliki Oleh pendidik dalam Pengelolaan pembelajaran dikelas melalui metode ice breaking yaitu:
1.      Efektifitas penggunaan ice breaking
2.      Tepat situasi dalam pembelajaran
3.      Suasana pembelajaran yang menyenangkan

b.      faktor-faktor yang mempengaruhinya:
a.       Pendidikan
b.      Guru
c.       Sarana dan prasarana.
b. Data Penunjang
1) Keadaan pengajar dan mahasiswa.
2) Sarana dan prasarana sekolah.


2. Sumber Data
a. Responden, yaitu mahasiswa psikologi Universitas HKBP Nommensen
b. Informan, yaitu Dosen
c. Dokumen, yaitu catatan-catatan atau arsip-arsip yang berhubungan dengan hal-hal yang diteliti.

D. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data menggunakan teknik sebagai berikut:
1. Observasi. Teknik ini digunakan untuk mengamati secara langsung di lapangan untuk mengumpulan data yang diperlukan. Di antaranya mengenai proses pembelajaran di kelas dengan metode ice breaking pada Mata kuliah Psikologi eksperimen, mengamati situasi dan kondisi kampus serta hal-hal yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
2. Wawancara. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data-data penunjang. Kelompok kami mengadakan tanya jawab langsung secara lisan kepada mahasiswa dan Dosen. 
3. Dokumentasi. Teknik ini digunakan untuk menggali data-data melalui catatan-catatan atau arsip-arsip yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.


E. Teknik Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul diolah dengan teknik sebagai berikut:
1. Editing, yaitu penulis mengecek kembali data-data yang sudah terkumpul, apakah masih ada yang kurang atau belum terjawab dari teknik pengumpulan data yang telah dilaksanakan.
2. Klasifikasi. Kegiatan ini dilakukan untuk mengklasifikasikan data sesuai dengan jenis data yang dikumpulkan.
3. Interprestasi Data. Kegiatan ini dilakukan untuk menafsirkan data-data yang disajikan.



F. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian  ini semua data yang digali di lapangan akan diuraikan dalam bentuk data kualitatif dan analisis dengan cara deskriptif kualitatif, kemudian mengambil kesimpulan dengan metode induktif yaitu yang bersifat khusus kemudian dibuat kesimpulan bersifat umum.

Share:

Landasan Empiris, Landasan Teoritis Ice breaker, Landasan Yuridis

A. Landasan Empiris 
Darmansyah (2010: 3) menjelaskan bahwa hasil penelitian dalam pembelajaran pada dekade terakhir mengungkapkan bahwa belajar akan lebih efektif, jika siswa dalam keadaan gembira. Kegembiraan dalam belajar telah terbukti memberikan efek yang luar biasa terhadap capaian hasil belajar siswa. Bahkan potensi kecerdasan intelektual yang selama ini menjadi “primadona” sebagai penentu keberhasilan belajar, ternyata tidak sepenuhnya benar. Kecerdasan emosional telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap efektifitas pembelajaran disamping kecerdasan intelektual.

Teori Gestalt yang dikutip Nasution menyatakan bahwa : 
Belajar tidak mungkin tanpa kemauan untuk belajar, maka kesukaan siswa terhadap sikap yang dilahirkan guru jelas akan memberikan motivasi tersendiri dalam belajar.Ada banyak cara untuk menggairahkan belajar siswa dengan cara menggembirakan dan itu dapat dipelajari oleh semua guru. Cara yang paling sering digunakan oleh guru adalah dengan meramu ice breaker yang disisipkan dalam psoses pembelajaran. Keunggulan ice breaker adalah bisa dipelajari oleh setiap orang tanpa membutuhkan  ketrampilan tinggi. Justru ice breaker dapat direncanakan dan dimatchingkan dengan berbagai materi pelajarn yang akan diajarkan oleh guru.

B.Landasan Teoritis Ice breaker 

sangat diperlukan dala proses pembelajaran di kelas untuk menjaga stamina emosi dan kecerdasan berpikir siswa. Ice breaker diberikan untuk memberikan rasa gembira yang bisa menumbuhkan sikap positif siswa dalam psoses pembelajaran. Goleman dalam Bobbi Dapoter (2001: 22) mengatakan bahwa Ketika otak menerima ancaman atau tekanan, kapasitas syaraf untuk berfikir rasional mengecil. Otak “dibajak secara emosional”. Psikolog dan peneliti Howard Gardner (1995: 94) seorang tokoh pendidikan yang telah mengembangkan teori Multiple intelligences. 


C.Landasan Yuridis 

Dalam kaitannya dalam proses pembelajaran yang menyenangkan ada beberapa ayat yang secara tersirat maupun tersurat mengatur tentang proses pembelajaran kepada siswa yang mengharuskan untuk memberikan kesempatan yang luas kepada ank untuk berekspresi dan berbagi pendapat. Dalam pasal 12 ayat 1 Konvensi Hak Anak yang berbunyi : “Negara-negara peserta akan menjamin hak anak yang berkemampuan untuk menyatakan secara bebas 
pandangannya sendiri mengenai semua hal yang menyangkut hal itu, dengan diberikan bobot yang layak pada pandangan-pandangan anak yang mempunyai nilai sesuai dengan usia dan kematangan yang bersangkutan”. Sementara itu landasan yuridis yang ada di Indonesia dituliskan secara lebih jelas dalam undang-undang RI No.20 pasal 40 ayat 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasioanal berbunyi:

 “Guru dan tenaga kependidikan berkewajiban : 

A. Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis. 

B. Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan.

C. Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi  dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.” Dalam rangka mengawal penyelenggaraan pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang tersebut diatas, Mentri Pendidikan Nasioanal yang mengamanatkan kepada seluruh penyelenggara pendidikan yang dituangkan dalam Permendiknas No.41 tahun 2007 Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah mengharuskan bahwa dalam kegiatan inti pembelajaran harus dilakukan secra interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, beraktifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik secara psikologis siswa

Share:

Tinjauan tentang Penerapan Ice Breaking pada Pembelajaran

1. Pengertain  Ice Breaking

Istilah ice breaker berasal dari dua kata asing, yaitu iceyang berarti es yang memiliki sifat kaku, dingin, dan keras, sedangkan breaker  berartimemecahkan. Arti harfiah ice-breakeradalah ‘pemecah es’ Jadi, ice breakerbisa diartikan sebagai usaha untuk memecahan atau mencairkan suasana yang kaku seperti es agar menjadi lebih nyaman mengalir dan santai. Hal ini bertujuan agar materi-materi yang disampaikan dapat diterima. Siswa akan lebih dapat menerima materi pelajaran jika suasana tidak tegang, santai, nyaman, dan lebih bersahabat.

Ice breaker juga apat diartikan sesuatu yang dingin yang perlu diberikan pada suasana yang panas. Artinya, ketika suasana sudah memanas, menegang, maka perlu suatu minuman yang dingin dan menyegarkan, yaitu ice breaker agar suasana kembali dingin dan otak siap menuju kegiatan pembelajaran yang lebih menantang.
M.Said mengungkapkan, yang dimaksud  ice breaker  adalah permainan atau kegiatan yang berfungsi untuk mengubah suasana kebekuan dalam kelompok Ada juga yang menyebutkan bahwa Ice Breakeradalah peralihan situasi dari yang membosankan, membuat mengantuk, menjenuhkan dan tegang menjadi rileks, bersemangat, tidak membuat mengantuk, serta ada perhatian dan ada rasa senang untuk mendengarkan atau melihat orang yang berbicara di depan kelas atau ruangan pertemuan.
Ice Breaker merupakan cara tepat untuk mencipatakan suasana kondusif. “Penyatuan” pola pikir dan pola tindak ke satu titik perhatian adalah yang bisa membuat suasana menjadi terkondisi untuk dinamis dan fokus. Dinamis karena peserta bisa mengubah aktivitasnya sendiri untuk mengikuti pola terstruktur yang telah diarahkan oleh pemimpi forum

2.Pentingnya Ice Breaker dalam Pembelajaran
Proses pembelajaran yang serius kaku tanpa sedikitpun ada nuansa kegembiraan tentulah akan sangat cepat membosankan. Apalagi diketahui bahwa berdasarkan penelitiankekuatan rata-rata manusia untuk terus konsentrasi dalam situasi yang monoton hanyalah sekitar 15 menit saja. Selebihnya pikiran akan segera beralih kepada hal-hal lain yang mungkin sangat jauh dari tempat di mana ia duduk mengikuti suatu kegiatan tertentu.
Otak kita tidak dapat dipaksa untuk melakukan fokus dalam waktu yang lama. Untuk mudahnya, anda bisa menggunakan patokan usia. Contohnya, untuk anak usia 5 tahun, rentang waktu fokus optimal yang bisa dilakukan hanyalah 5 menit, untuk anak usia 15 tahun, rentang waktu fokus hanyalah 15 menit. Bila seorang berusia 35 tahun atau 60 tahun maka fokus optimalnya 30 menit. Jadi 30 menit adalah rentang waktu fokus maksimal agar tidak terjadi kelelahan otak yang berlebihan

A.Landasan Empiris

Darmansyah (2010: 3) menjelaskan bahwa hasil penelitian dalam pembelajaran pada dekade terakhir mengungkapkan bahwa belajar akan lebih efektif, jika siswa dalam keadaan gembira. Kegembiraan dalam belajar telah terbukti memberikan efek yang luar biasa terhadap capaian hasil belajar siswa. Bahkan potensi kecerdasan intelektual yang selama ini menjadi “primadona” sebagai penentu keberhasilan belajar, ternyata tidak sepenuhnya benar. Kecerdasan emosional telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap efektifitas pembelajaran disamping kecerdasan intelektual.

Teori Gestalt yang dikutip Nasution menyatakan bahwa :
Belajar tidak mungkin tanpa kemauan untuk belajar, maka kesukaan siswa terhadap sikap yang dilahirkan guru jelas akan memberikan motivasi tersendiri dalam belajar.Ada banyak cara untuk menggairahkan belajar siswa dengan cara menggembirakan dan itu dapat dipelajari oleh semua guru. Cara yang paling sering digunakan oleh guru adalah dengan meramu ice breaker yang disisipkan dalam psoses pembelajaran. Keunggulan ice breaker adalah bisa dipelajari oleh setiap orang tanpa membutuhkan  ketrampilan tinggi. Justru ice breaker dapat direncanakan dan dimatchingkan dengan berbagai materi pelajarn yang akan diajarkan oleh guru.

B.Landasan Teoritis Ice breaker

sangat diperlukan dala proses pembelajaran di kelas untuk menjaga stamina emosi dan kecerdasan berpikir siswa. Ice breaker diberikan untuk memberikan rasa gembira yang bisa menumbuhkan sikap positif siswa dalam psoses pembelajaran. Goleman dalam Bobbi Dapoter (2001: 22) mengatakan bahwa Ketika otak menerima ancaman atau tekanan, kapasitas syaraf untuk berfikir rasional mengecil. Otak “dibajak secara emosional”. Psikolog dan peneliti Howard Gardner (1995: 94) seorang tokoh pendidikan yang telah mengembangkan teori Multiple intelligences.


C.Landasan Yuridis

Dalam kaitannya dalam proses pembelajaran yang menyenangkan ada beberapa ayat yang secara tersirat maupun tersurat mengatur tentang proses pembelajaran kepada siswa yang mengharuskan untuk memberikan kesempatan yang luas kepada ank untuk berekspresi dan berbagi pendapat. Dalam pasal 12 ayat 1 Konvensi Hak Anak yang berbunyi : “Negara-negara peserta akan menjamin hak anak yang berkemampuan untuk menyatakan secara bebas
pandangannya sendiri mengenai semua hal yang menyangkut hal itu, dengan diberikan bobot yang layak pada pandangan-pandangan anak yang mempunyai nilai sesuai dengan usia dan kematangan yang bersangkutan”. Sementara itu landasan yuridis yang ada di Indonesia dituliskan secara lebih jelas dalam undang-undang RI No.20 pasal 40 ayat 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasioanal berbunyi:

 “Guru dan tenaga kependidikan berkewajiban :

A. Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis.

B. Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan.

C. Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi  dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.” Dalam rangka mengawal penyelenggaraan pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang tersebut diatas, Mentri Pendidikan Nasioanal yang mengamanatkan kepada seluruh penyelenggara pendidikan yang dituangkan dalam Permendiknas No.41 tahun 2007 Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah mengharuskan bahwa dalam kegiatan inti pembelajaran harus dilakukan secra interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, beraktifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik secara psikologis siswa


3.Tujuan dan Fungsi Ice Breaker
Ice breakerdidefinisikan sebagai “a fun way to support the
objective of presentation [Svendsen, 1996]. Bahkan hampir dipastikan
semua aktivitas manusia memerlukan kehadiran ice breaker.Ada  beberapa tujuan penggunaan ice breaker, yaitu:

a.Menghilangkan sekat-sekat pembatas di antara siswa.

b.Terciptanya kondisi yang dinamis di antara siswa .

c.Menciptakan motivasi antara sesama siswa untuk melakukan aktivitas
selama proses belajar-mengajar berlangsung.
d.Membuat peserta saling mengenal dan akan menghilangkan jarak mental sehingga suasana menjadi benar-benar rileks, cair dan mengalir.
e.Mengarahkan atau memfokuskan peserta pada topik
pembahasan/pembicaraan. Selnjutnya ice breakerdapat pula digunakan sebagai daya pembangkit [energizer]. Energizer adalah permainan-permainan yang
digunakan ketika para peserta tampak dingin atau kehilangan semangat,
jenuh dan mengantuk. Aktivitas ini digunakan sebagai sarana menurunkan ketegangan dan menyuntikkan tenaga baru. Menurunnya semangat ini juga bisa terjadi sesudah jeda (break) atau makan siang. Untuk itu, semangat bermain dan mengkuti training harus dibangkitkan kembali.Catatan penting pemakaian Ice breaker.







4.Macam-macam Ice Breaker

Ice breakerdi sini dibagi dalam dua macam varian, antara lain :

a. Ice breakertanpa media
Ice breakertanpa media dapat diartikan permainan pendinginan otak dengan tidak menggunakan media di luar anggota tubuh.
b. Ice breaker dengan media
Ice breaker dengan media merupakan permainan pendinginan otak dengan menggunakan media di luar media anggota tubuh. Media/alat bantu lain untuk melakukan ice breaker,misalnya penggaris, penghapus, tas, pensil, atau kapur.

Ada banyak macam energizer atau ice breakeryang dapat digunakan dalam pembelajaran. Namun jika dilihat dari metodenya dapat dikelompokkan menjadi 9 jenis, yaitu :
1. Jenis yel-yel
Yel-yel walaupun sederhana tetapi mempunyai tingkat “penyembuh” yang paling baik dibanding jenis lain. Dengan melakukan yel-yel selain konsentrasi menjadi pulih kembali, juga dapat menumbuhkan semangat yang tinggi dari peserta didik untuk melanjutkan pelajaran.

2. Jenis tepuk tangan
Tepuk tangan pada awalnya adalah merupakan salah satu ekspresi kegembiraan disamping tertawa. Teknik tepuk merupakan ice breakeryang apaling mudah karena tidak memerluka persiapan yang membutuhkan banyak waktu.Tepuk tangan sangat bagus dilakukan oleh siapa saja dengan tidak melihat usia. Dari anak kecil samapai orang tua tetap pantas melakukan jenis ini. Tepuk tangan juga dapat dimodifikasi menjadi banyak sekali modelnya.

3. Jenis lagu
Selama ini berdasarkan pengalaman, ice breaker jenis ini adalah yang paling banyak disukai oleh peserta didik. Lagu-lagu dalam pembelajaran sangat populer dalam KBM di zaman dahulu. Namun seiring dengan perkembangan zaman, nampaknya para guru masa kini sudah mulai enggan menggunakan sarana ini.
Mengenalkan dan memasukkan lagu/musik musik kedalam kurikulum sejak usia dini tidak hanya akan meningkatkan apresiasi anak terhadap musik, tetapi juga dapat meningkatkan kecerdasan terhadap musiknya. Keuntungan lain adalah membantu meningkatkan kemampuan anak dalam bidang matematika, membaca dan sains.

4. Jenis gerak anggota badan
Gerak anggota badan dapat dilakukan di tengah kegiatan pembelajaran, jka dilihat siswa sudah merasa bosan dan ngantuk maka perlu digerakkan anggota badannya agar kondisi psikologis Jenis gerak anggota badan Gerak anggota badan dapat dilakukan di tengah kegiatan pembelajaran, jka dilihat siswa sudah merasa bosan dan ngantuk maka perlu digerakkan anggota badannya agar kondisi psikologis kembali fresh

5. Jenis Humor
Humor berasal dari istilah Inggris yang pada mulanya memiliki beberapa arti. Namun semuanya berasal dari suatu istilah yang berarti “cairan” (James Dananjaya, 1999). Arti ini berasal dari doktrin ilmu faal kuno mengenai empat macam cairan, seperti darah, lendir, cairan empedu dan cairan empedu hitam. Keempat cairan tersebut untuk beberpa abad dianggap menentukan temperamen
seseorang (Friedman, 2002). Sheiniwiazt (1996) mengatakan : “Humor adalah kualitas yang bersifat lucu dari seseorang yang menggelikan dan menghibur.”
Humor dalam pembelajaran yang diperlukan tidaklah mengharuskan sswa didik bisa tertawa terpingkal-pingkal, namun lebih kepada bagaimana membuat suasana menjadi cair tanpa ada ketegangan setelah beberapa jam sebelumnya serius memperhatikan  materi pelajaran.

6. Jenis games
Games atau permainan adalah jenis Ice Breaker yang paling
membuat siswa didik heboh. Melalui permainan suasana menjadi cair sehingga kondisi belajar menjadi kondusif

7. Jenis cerita/dongeng
Dongeng adalah salah satu sarana yang cukup efektif untuk
memusatkan perhatian siswa. Dongeng selalu menarik perhatian
siswa baik di awal maupun diakhir pelajaran. Ada beberapa jenis
dongeng menurut isinya yang dapat digunakan sebagai Ice Breaker
antara lain :
a.Dongeng motivasi adalah dongeng yang berisikan untukmembangun semangat yang tinggi dalam perjuangan hidup maupun dalam belajar.

b.Dongeng nasehat adalah dongeng yang berisi tentang petuah kebijakan yang diharapkan dapat ditiru oleh anak didik

c.Dongeng lelucon atau dongeng jenaka sangat baik untuk Ice Breaker.
Namun demikian, dalam memilih dongeng guru haruslah berhati-hati, karena banyak sekali dongeng jenaka yang hanya menekankan pada kelucuannya saja tanpa memperhatikan isi yang edukatif.

8. Jenis sulap

Sulap adalah sarana Ice Breaker yang sangat menarik perhatian ank-anak. Namun demikian jenis ini sangat jarang digunakan oleh guru di sekolah. Mungkin karena dianggap sulit atau mungkin juga dianggap sebagai magic.


Berdasarkan caranya ternyata sulap dapat dibedakan menjadi 10 jenis, yaitu :

a.Sleight of hand
yaitu permainan yang mengandalkan kecepatan tangan pesulap untuk menghilangkan dan memunculkan suatu benda.

b.Tricks yaitu permainan dengan mengandalkan peralatan sulap untuk menghilangkan, memindahkan, memunculkan, mengubah dan sebagainya.

c.Illusion
yaitu kemahiran menggunakan peralatan ilusi untuk
membuat sesuatu yang mustahil seolah-olah benar terjadi.

d.Mentalism
kemahiran yang merupakan kekuatan spesial untuk dapat memprediksi, menemukan, mengubah, menggerakkan dan lain-lain.

e.Escapetology
yaitu kemahiran membebaskan diri dari berbagai ikatan dan belenggu pada berbagai keadaan selama waktu tertentu.

f.Cardician
yaitu kemahiran memainkan kartu untuk dapat menemukan kartu yang dipilih, menghilangkan kartu dan mengubah kartu.

g.Bizarre
yaitu kemahiran menggunakan cerita dan kata-kata untuk menyentuh perasaan penonton secara mendalam.

 h.Pick pocket
yaitu kemahiran “memindahkan” barang yang dimiliki atau dipakai orang lain.
.
i.Balloon twisting
yaitu kemahiran meniup dan menekuk balon
untuk dibentuk menjadi berbagai macam benda seperti binatang,
bunga, topi dll.

j.Ventriloquism
yaitu kemahiran ini lebih dikenal denagn sulap suaraatau suara perut. Yang menimbulkan kesan boneka/ benda dapat hidup dan bicara.

9. Jenis audio visual
Banyak sekali jenis Audio visual yang dapat digunakan sebagai Ice Breaker.
Biasanya berupa klip film pendek yang lucu, inspiratif atau memotivasi anak untuk belajar lebih keras. Namun demikian jenis ini tidak bisa dite
rapkan pada semua kelas terutama sekolah yang belum memiliki perangkat multimedia komputer.Menurut jenisnya media audio visual dapat dibedakan
menjadi 6 macam :

a.Film gerak bersuara
b.Video
c.Televisi
d.Media televisi terbuka
e.Media televisi siaran terbatas (TVST)
f.Multimedia



5.Teknik Penerapan

Ice Breaker dalam Pembelajaran Teknik penggunaan ice breaker
ada dua cara yaitu secara spontan dilaksanakan dalam situasi pembelajaran dan direncanakan. ice breaker digunakan secara spontan dalam proses pembelajaran biasanya digunakan tanpa skenario tetapi lebih banyak digunakan karena situasi pembelajaran yang ada saat itu butuh energizer atau karena terlalu noice sehingga pembelajaran tidak terfokus lagi.Pelaksanaan

ice breakerdapat dibagi dalam tiga kegiatan pembelajaran sebagai berikut:

a.Penerapan ice breaker secara spontan dalam proses pembelajaran
Ice breaker dapat dilakukan secara spontan dalam proses pembelajaran. Hal ini tentu dilakukan tanpa persiapan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu oleh guru. Seorang guru yang tanggap terhadap kondisi siwa tentu akan segeramengambil tindakan terhadap kondisi dan situasi pembelajaran yang kurang kondusif selama KBM.

Ice breaker diberikan secara spontan adalah dengan tujuan
antara lain untuk :

1. Memusatkan kembali perhatian siswa
2. Memberikan semangat baru pada saat siswa mencapai titik
jenuh.
3.Mengalihkan perhatian terhadap fokus materi pelajaran yang
berbeda.

Ice breaker yang dilaksanakan secara spontan memiliki beberapa keunggulan, yaitu:

1. Lebih kontekstual dengan situasi dan kondisi pembelajaran yang dihadapi saat itu.

2. Guru lebih kreatif memanfaatkan kondisi siswa untuk melakukan Ice breaker secara interaktif.

3. Kejenuhan yang dialami siswa cepat segera dapat diatasi .


Ice breaker di awal kegiatan pembelajaran
Pada kegiatan awal pembelajaran biasanya anak masih dalam kondisi segar, kecuali sebelumnya ada mata pelajaran lain. Kondisi yang masih segar seperti ini dapat menggunakan ice breaker tipe ringan, yaitu dengan menepuk-nepuk punggung tangan dengan punggung tangan, telapak kaki dengan telapak kaki, atau kebalikannya telapak tangan dengan telapak kanan dengan punggung
kaki dengan punggung kaki. Dapat juga diisi dengan berbagai tepuk sesuaidengan mata pelajaran yang akan dilakukan. Ice breaker yang direncanakan dalam Rencana Pelaksaan Pembelajaran (RPP) memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak didmiliki pada Ice breaker
spontan, antara lain :

1. Ice breaker dapat dipilih secara lebih tepat, baik dalam menyesuaikan materi pembelajaran maupun ketepatan dalam memenuhi prinsip-prinsip penggunaan Ice breakerdalam pembelajaran.
2. Ada kesempatan bagi guru untuk belajar terlebih dahulu terhadap Ice breakeryang belum dikuasainya.
3. ice breakeryang dipersiapkan lebih sinkron dengan strategi pembelajaran yang dipilih guru saat itu.
4. Ice breakerterasa lebih menyatu dengan proses pembelajaran yang sedang berlangsung

Ice breaker pada inti kegiatan pembelajaran
Pada kegiatan inti pembelajaran merupakan saat-saat krusial di mana siswa harus terus memusatkan perhatian selama jam pembelajaran berlangsung, baik pada saat mengerjakan tugas ataupun mendengarkan penjelasan guru. Penggunaan ice breaker pada inti pembelajaran harus dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Ice breakerdigunakan pada saat pergantian sesi atau pergantian kegiatan. Ice breakerhendaknya jangan digunakan pada saat tengah-tengah kegiatan, seperti pada saat diskusi, kerja kelompok, demonstrasi dan lain-lain.

2. Ice breakerdilakukan pada saat anak mengalami kejenuhan atau kebosanan dalam menjalankan tugas belajar. Hal ini diperlukan untuk mengembalikan stamina kepada peserta didik agar dapat optimal dalam mengikuti proses pembelajaran.

3. Ice breakerjuga dapat digunakan untuk memberikan penguatan materi pembelajaran yang sedang diberikan. Biasanya Ice breakeryang dapat digunakan untuk penguatan adalah jenis yel-yel ataupun jenis lagu.


Pada kegiatan akhir dapat dilakukan dengan kegiatan melompat setinggi tingginya sambil meletakkan tangan lurus di atas kepala dan menepuk kedua telapak tangan secara selang-seling antara teman yang satu dengan teman yang lain. Dapat juga dengan mengungkapkanpermainanhewan:Semutbesar(membuat lingkaran besar dengan tangan di depan dada). Gajah-kecil (jari telunjuk dan kelingking disatukan membentuk lingkaran kecil). Jerapah-pendek (tangan diletakkan di pipi, kepala digelengkan ke kanan dan ke kiri). Hitam-putih
(memegang baju atas). Putih-hitam (memegang baju bawah). Merah-
hijau (memegang kaki kanan bawah).

Adapun car-cara yang dilakukan untuk mengakhiri sebuah pelajaran agar siswa mengingat apa yang telah dipelajari dan memahami cara menerapkannya dimasa mendatang. Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan, antara lain :
a.Peninjauan: mengingat dan mengikhtisarkan apa yang telah dipelajari.
b.Penilaian-diri: mengevaluasi perubahan-perubahan pengetahuan, ketrampilan atau sikap.
c.Perencanaan masa mendatang:menentukan bagaimana siswa akan melanjutkan belajarnya setelah pelajaran berakhi
d.Ungkapan perasaan terakhir:menyampaikan pikiran, perasaan dan persoalanyang dihadapi siswa pada akhir pelajaran.Itu adalah beberapa varian
ice breaker yang dapat ikembangkan lagi sehingga menjadi varian-varian baru yang lebih atraktif.

Share:

Jurnal Pendidikan

Abstrak 
Gerakan anak-anak secara spontan menghasilkan ketika menjelaskan sebuah tugas memprediksi apakah nantinya akan mempelajari tugas itu. Mengapa? Sikap mungkin hanya mencerminkan kesiapan seorang anak untuk mempelajari tugas tertentu. Sebagai alternatif, isyarat itu sendiri bisa berperan dalam mempelajari tugas. Untuk menyelidiki alternatif ini, kami secara eksperimental memanipulasi isyarat anak-anak selama pengajaran dalam konsep matematika baru. Kami menemukan bahwa mengharuskan anak memberi isyarat saat mempelajari konsep baru ini membantu mereka mempertahankan pengetahuan yang mereka dapatkan selama instruksinya. Sebaliknya, mengharuskan anak berbicara, tapi tidak memberi isyarat, saat mempelajari konsep tersebut tidak berpengaruh pada pembelajaran solidifikasi. Dengan demikian, memberi kesempatan memainkan peran kausal dalam belajar, mungkin dengan memberi cara alternatif kepada peserta didik untuk mewujudkan gagasan baru. Kita mungkin bisa memperbaiki pembelajaran anak-anak hanya dengan mendorong mereka untuk menggerakkan tangan mereka.

Pendahuluan
      Orang-orang dari segala umur dan budaya secara spontan mengumbar dengan tangan mereka saat mereka berbicara (Feyereisen & del annoy, 1991), Bahkan individu buta yang belum pernah melihat gesture menggerakkan tangan mereka saat mereka berbicara (Iverson & 1908) gestur yang dihasilkan peserta didik saat menjelaskan sebuah tugas meramalkan apakah mereka akan segera menguasai pertanyaan(Church & 19g6, Perry, Church. & dow, 1988; Pine, Lufkin, & Messer, 200), dan peserta didik yang memberi isyarat secara spontan atas pertanyaan  lebih Kemungkinan besar mempertahankan apa yang mereka pelajari dari pada orang yang tidak memberi isyarat pada tahun 1993; Masak & (Alibali & 2006). Temuan ini menunjukkan bahwa memberi isyarat dapat mendorong pembelajaran. Dan, memang instruksi yang mencakup isyarat telah ditemukan untuk memfasilitasi pembelajaran (Guru, Ayman-Nolley, & Mahootian, 2004; Singer & & Klatzky, 2003 mungkin dengan mendorong peserta didik untuk menghasilkan isyarat mereka sendiri (Cook & Goldin-Meadow, 2006)
        Namun, semua pekerjaan sampai saat ini yang telah mengeksplorasi peran gestur dalam pembelajaran telah tampak secara eksklusif pada pemulihan yang dihasilkan oleh peserta didik secara spontan. Dengan membiarkan kemungkinan bahwa gestureis diasosiasikan dengan faktor-faktor yang berubah, bukan secara langsung terlibat dalam perubahan itu Akibatnya, tidak jelas apakah memberi isyarat hanya mencerminkan kesiapan io mempelajari pengetahuan baru, atau terlibat aktif dalam pembangunan pengetahuan baru 
          Ada beberapa bukti yang menyarankan gerak tubuh itu dapat berperan dalam membangun isyarat membangun baru lebih sering terjadi ketika pembicara adalah kalimat spontan daripada ketika mereka membaca latihan Krauss, 1994). Gerakan juga lebih sering terjadi saat para pembicara dibuat untuk memikirkan satu set objek daripada ketika mereka diinstruksikan untuk sekadar menggambarkannya (Alibali, Kita, & Young, 2000). Gerakan juga terbukti penting dalam mengakses pengetahuan tersimpan, Anak-anak yang diinstruksikan untuk memberi isyarat sambil mengingat sebuah peristiwa melaporkan lebih banyak rincian tentang kejadian tersebut daripada anak-anak yang diinstruksikan untuk tidak memberi isyarat (Stevanoni & Salmon, 2005)
        Namun, tidak ada penelitian eksperimental yang menguji gerak tubuh yang dihasilkan peserta didik saat mengkodekan informasi baru, dan apakah gerakan tersebut mempengaruhi ingatan berikutnya terhadap informasi tersebut. Jika isyarat tangan hanya mencerminkan (dan tidak mengubah) pengetahuan seseorang yang ada, maka apakah isyarat peserta didik saat mengkodekan informasi baru seharusnya tidak berpengaruh pada perolehan pengetahuan baru tersebut. Sebaliknya, gerak tubuh memainkan peran dalam penciptaan dan penyimpanan pengetahuan, lalu memberi isyarat saat mengkodekan informasi baru harus ada pada yang baru. Secara khusus, peserta didik seharusnya lebih cenderung memperoleh konsep jika diminta untuk memberi isyarat yang memberi instantiasi konsep itu selama pembelajaran yang diajarkan untuk mengartikulasikan konsep dalam ucapan tanpa disertai. Untuk mengeksplorasi prediksi ini, kami memberi anak-anak pelajaran matematika dan memberi tahu mereka untuk memberi isyarat yang menunjukkan strategi untuk memecahkan masalah. Kami kemudian membandingkan perbaikan mereka setelah instruksi untuk kemajuan yang dibuat oleh anak-anak yang diminta untuk menghasilkan kata-kata yang diucapkan yang mencerminkan strategi pemecahan masalah yang sama.


2. Metode
2.1 Peserta
      Delapan puluh empat anak kelas tiga dan empat dimasukkan dalam penelitian
2.2 Pretest 
     Anak-anak menyelesaikan pretest yang terdiri dari enam masalah tambahan dengan penambahan identik pada masing-masing sisi yang sama. tanda (misalnya, 4 + 3 + 6 + 6) dan kemudian diminta untuk menjelaskan bagaimana mereka memecahkan setiap masalah ke eksperimen di papan tulis. Hanya anak-anak yang tidak menghasilkan jawaban atau penjelasan yang benar dalam ucapan atau ucapan-pretest yang disertakan dalam penelitian ini.
2.3 Pra-instruksi
     Eksperimen kedua, instruktur, kemudian menunjukkan dan meminta anak untuk meniru perilaku itu tiga kali. Perilaku yang ditanyakan anak untuk meniru beragam kondisi, dan didasarkan pada jenis ucapan dan gerak tubuh yang biasanya diproduksi oleh anak-anak yang memecahkan masalah matematika dengan sukses. Anak-anak secara acak ditugaskan ke salah satu dari tiga kondisi. Dalam kondisi Speech instruktur berkata, "Saya ingin membuat satu sisi sama dengan sisi yang lain dan meminta anak untuk mengulangi kata-katanya. Dalam kondisi gesture (N 30), instruktur memindahkan tangan kirinya di bawah sisi kiri persamaan, berhenti sejenak , kemudian pindahkan tangan kanannya di bawah sisi kanan persamaan, dan mintalah anak tersebut untuk mengulangi gerakan tangannya (lihat Gambar 1 untuk contoh anak yang mereproduksi gerakannya). Dalam kondisi Speech Speech (N 25) , instruktur berkata, "Saya ingin membuat satu sisi sama dengan sisi yang lain sambil menggerakkan tangan kirinya di bawah sisi kiri persamaan dan kemudian tangan kanannya berada di bawah sisi kanan persamaan, dan meminta anak tersebut untuk simulihat. ulangi kata-katanya dan gerakan tangan. Selama fase pra-instruksi ini, instruktur tidak memberikan jawaban atas masalah apa pun, dan anak-anak tidak menyelesaikan masalah matematika.

Gambar 1. Seorang anak di kelompok Gennar menyempurnakan gerakan tangan yang telah diajarnya sebelum memberi instruksi. Dia menggerakkan tangan kirinya di bawah len naik persamaan (dua gambar teratas dijeda, kemudian bergerak ke bawah sisi persamaan (dua gambar terbawah)

2.4. Instruksi
       Instruktur kemudian mengajari anak cara menggunakan strategi equalizer untuk memecahkan lebih banyak masalah yang sama. Misalnya, setelah memberikan jawaban yang benar dalam pertanyaan  4 + 9+ 3 = 4+ ____  instruktur berkata, "Saya ingin membuat satu sisi (sambil menyapu tangan kanan di bawah sisi kiri persamaan) sama dengan sisi yang lain (sambil menyapu tangan kanan di bawah sisi kanan); jadi empat ditambah sembilan ditambah tiga sama dengan enam belas, dan empat ditambah dua belas sama dengan enam belas; satu sisi (gerakan di bawah sisi kiri) sama dengan sisi yang lain (isyarat di bawah sisi kanan) Perhatikan bahwa eksperimen mengulangi strategi equalizer dalam pidato dan memberi isyarat dua kali pada masing-masing dari 6 masalah, tepat sebelum dan setelah menambahkan angka pada masing-masing sisi persamaan dan tiba pada jumlah yang sama. Anak-anak dari ketiga kondisi tersebut kemudian terpapar dengan strategi equalizer 12 kali dalam pidato dan 12 kali dalam pemberian isyarat selama pemberian instruksi. Memastikan bahwa semua anak terpapar pada representasi kesetiaan yang sama dan sesuai dari persamaan matematis, dan meningkatkan kemungkinan setidaknya beberapa anak akan belajar menyelesaikan masalah matematika, tanpa instruksi, anak-anak biasanya bercokol dalam solusi salah mereka terhadap masalah jenis ini (Goldin-Meadow & Alibali, 2002) Setelah masing-masing 6 masalah instruktur, anak-anak diberi masalah sendiri untuk dipecahkan. Mereka diminta untuk mereproduksi perilaku yang sebelumnya mereka lakukan (Pidato, Gerakan, atau Pidato Gesture) sebelum menyelesaikan setiap masalah mereka dan kemudian lagi setelah menyelesaikan masalah . Anak-anak yang mencoba untuk menghasilkan perilaku selain perilaku yang telah ditunjukkan selama pre-instruction segera dihentikan dan diingatkan untuk hanya menghasilkan perilaku yang telah diperintahkan untuk diulang. Dengan demikian, anak-anak di kelompok Gesture and Gesture Speech menghasilkan strategi equalizer dalam gerakan 12 kali selama pengajaran (dua kali pada masing-masing 6 masalah); Anak-anak dalam kelompok Speech tidak pernah menghasilkan strategi equalizer dalam gerakan tapi menghasilkannya dalam pidato 12 kali (seperti yang dilakukan oleh kelompok Pidato Gesture).

Gambar 2. Panel atas menampilkan garis regresi yang berkaitan dengan kinerja pada follow up 4 minggu sampai kinerja pada posttest segera. Tiga panel bawah menampilkan scatterplots dari jumlah masalah yang terpecahkan dengan benar pada tes lanjutan dan posttest berdasarkan kondisi (Gesture Speech, Gesture, Speech). Ukuran titik di setiap titik mewakili jumlah anak yang jatuh pada poin tersebut. Kinerja kinerja dalam Pidato dan Gesture Gesture dapat diprediksi dari kondisi posttest, namun tidak dalam kondisi Speech, menunjukkan bahwa anak-anak mempertahankan pengetahuan baru mereka hanya jika mereka memberi isyarat saat belajar.

2.5 Posttest
Segera setelah periode instruksi, anak-anak menyelesaikan postlest yang mirip dengan pretest dan dikelola oleh esperimenter pertama.
2.6 Tes Tindak Lanjut
 Sekitar empat minggu kemudian, anak-anak menyelesaikan tes fonow.up yang serupa dengan posttest namun dalam konteksnya. Tes ini dilakukan oleh guru kelas anak selama hari sekolah normal, diinstruksikan untuk tidak menyebutkan eksperimen saat mengelola dan tidak membantu siswa menyelesaikan masalah.

3. Hasil 
Semua anak diperbaiki dengan instruksi (ingat bahwa tidak ada yang memecahkan masalah dengan benar pada saat pretest). Anak-anak di tiga kelompok memecahkan sejumlah masalah dengan benar selama pengajaran (Gesture 2.3, Pidato Gesnure 2.8, Ucapan 1.8, F12,82) 1.12, ns) dan pada posttest segera (Gesture 2.6, Pidato Pidana 2.7, Pidato 2,0, R2,82) 0,52, ns). Dengan demikian, perilaku yang dipelajari anak-anak selama pra-instruksi dan direproduksi selama pengajaran tidak andal mempengaruhi pemahaman anak tentang instruksi. Namun, ketiga kelompok itu berbeda dalam seberapa baik mereka mempertahankan pengetahuan yang didapat selama pengajaran. Jika anak-anak mempertahankan pengetahuan yang dipelajari selama pelajaran matematika, kita harus bisa memprediksi kinerjanya pada minggu-minggu berikutnya dan instruksi dari kinerjanya segera setelah mereka mengikuti instruksi. Kami menggunakan model regresi untuk memprediksi kinerja uji lanjutan, dengan menggunakan posttest dalam kondisi (Sp Gesture, Gesture factors. Seperti yang terlihat pada gambar 2, koefisien regresi berbeda pada tiga kelompok (F12,78) 5,79, p 0045).
Kekuatan prediktif yang unik adalah krater yang signifikan untuk kaleng Granare (A 80, 0001) dan Geanure (A D001) daripada kelompok ucapan (Ba 33. N27 i 89, p D69), 264., 01 dan 3.22, 01, masing-masing. Mengulangi kata-kata instruktur yang tidak berguna terutama untuk membantu anak-anak mempertahankan pengetahuan yang telah mereka pelajari kecuali jika kata-kata itu ditangani dengan teliti, kekuatan prediktif yang unik tidak andal untuk Gerakan dan Gerangan 69. ns). Dalam kedua hal ini sebagai hubungan antara kinerja posttest dan tindak lanjut, anak-anak dalam kondisi ini yang membaik pada posttest cenderung mempertahankan keuntungan mereka dalam tindak lanjut. Dan anak-anak  yang diminta untuk berlatih selama instruksi tetap memperoleh keuntungan posttest mereka, rata-rata , dibandingkan dengan 33% untuk anak-anak yang diminta untuk spak dan tidak Dalam kelompok pidato, hubungan antara instruksi dan pembelajaran relatif lemah. Dalam kondisi ini, banyak anak-anak yang telah memperbaiki instruksi yang gagal pada Gambar 2) pada r gain pada tindak lanjut (titik kanan ower di bawah tidak membaik, ada anak-anak yang membaik pada follow-up tapi Gambar 2), menyarankan- segera aner di bouom scatterplot. pelajaran dan meskipun anak-anak ini siap untuk mempelajari konsepnya, instruksi kami tidak banyak berhubungan dengan kemajuan mereka. Kedua pemimpin Gereja meniru pidato yang diinstruksikan untuk menghasilkan isyarat. Tidak terlihat di dalam Kami melihat pola orman yang sama saat kita melihat pemeliharaan anak-anak kita dari waktu ke waktu dengan pasti, kita menghirup anak-anak seolah-olah mereka lebih dari sekadar mengatasi masalah dengan benar, Wethen bertanya kepada banyak dari pembelajar ini mempertahankan pengetahuan mereka yang baru terbentuk sampai tindak lanjut. (yaitu berapa banyak yang memecahkan lebih dari halr masalah dengan benar pada tes lanjutan). Kami menggunakan Fisher Exact Test untuk mengetahui apakah ada kecenderungan untuk mempertahankan pembelajaran di seluruh kondisi, dan menemukan perbedaan yang signifikan di antara kondisi yang lebih cenderung mempertahankan caming mereka daripada anak-anak dalam kondisi Speech (3 dari 9, G + S vv S. P <.01; GS, hal026), dan tidak dapat dipercaya berbeda satu sama lain (G + Sv G. ns). Dengan demikian, anak-anak yang tampil dengan baik dan diberi isyarat selama pengajaran lebih cenderung mengkonsolidasikan dan mempertahankan pengetahuan yang mereka dapatkan daripada anak-anak yang berprestasi baik dan tidak memberi isyarat saat mengajar. Namun, mungkin saja itu bukan isyarat yang menginstruksikan anak-anak untuk mempertahankan pengetahuan baru mereka, melainkan tindakan alami anak-anak untuk memberi isyarat.
Pada akun ini, anak-anak yang belajar dalam kondisi isyarat mungkin adalah anak-anak yang cenderung memberi isyarat secara spontan. Di lain petunjuk kami mungkin telah melakukan tidak lebih dari mendorong kinerja perilaku yang akan dihasilkan tanpa instruksi. Untuk menyelidiki kemungkinan ini, kami membagi anak-anak menjadi dua kelompok berdasarkan apakah atau tidak memberi isyarat secara spontan pada pretest, menganalisis kembali data tersebut. Pada kedua kelompok, ada pengaruh yang dapat diandalkan terhadap kondisi pada hubungan b posttest dan fol- up-up (non-gestancer pada pretest, F (2,9) 4,47, hal05; Gesturer at pretest, .3). Pada kedua kelompok, Gesture and the Gesture Speech con ditions dikaitkan dengan retensi yang jauh lebih signifikan daripada kondisi Speech (Non-gesturers: GS vs S, t (9) 2,72, p 02, G vs S, t (9) 2.55, hal .03; Gensler: GS vs S, t (63) 2.65, hal .01, G vs. S, t (63) 1.98, p 05) Jadi, petunjuk kita untuk memberi isyarat efektif dalam mempromosikan pembelajaran yang langgeng , bahkan untuk anak-anak yang tidak menghasilkan perilaku secara spontan sebelum instruksi.

4. Diskusi
4.1 Mendesak membuat belajar terakhir
     Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tubuh dapat memainkan peran penting dalam makna yang saling bertentangan (Barsalou, 1999; Glenberg & 2000). Keputusan motor tentang konsep-konsep yang cukup abstrak telah terbukti melibatkan tubuh menambahkan ini (Glenberg & Kaschak, 2002; Zwaan & Taylor, 2006). Temuan kami dalam literatur dengan menunjukkan bahwa ketika anak diminta memberi instantiate konsep baru di tangan mereka, pembelajaran lebih tahan lama daripada ketika mereka diminta untuk memberi instantiate hanya kata-kata saja. Memang, dalam data kami, terutama ketika anak-anak didorong untuk menghasilkan isyarat (dengan ucapan atau tanpa mereka mempertahankan apa yang telah mereka pelajari dari instruksi tersebut.Banyak anak yang mengungkapkan strategi equalizer hanya dengan kata-kata selama pembelajaran dibuktikan hanya kenangan singkat untuk konsep baru Temuan ini menunjukkan bahwa menggunakan tubuh untuk mewakili gagasan mungkin sangat membantu dalam membangun dan mempertahankan pengetahuan baru. 
      Namun, kemungkinan lain adalah bahwa hal itu adalah kebaruan dari instruksi kita untuk mendapatkan yang membuat anak-anak mempertahankan apa yang telah mereka pelajari.Tapi jika anak-anak telah terlibat secara berbeda dalam kondisi eksperimental kita, kita seharusnya menemukan perbedaan dalam kinerja selama pengajaran dan pada posttest segera, dan bukan hanya pada tindak lanjut. Terlebih lagi, tidak ada perbedaan pada tindak lanjut antara kondisi yang sama sekali baru di mana anak-anak diinstruksikan untuk memberi isyarat tanpa ucapan (Gesture) dan kondisi yang lebih familiar saya n yang mereka instruksikan untuk memberi isyarat bersama dengan pidato (Gesture Speech). Kurangnya perbedaan antara dua kondisi ini juga menunjukkan bahwa belajar bukan karena berproduksi beberapa representasi .. Anak-anak di Gsture + Kondisi ucapan menghasilkan dua hanya strategi pemecahan masalah; Anak-anak dalam kondisi Gesture hanya menghasilkan satu. Namun, anak-anak di kedua kelompok menyadari apa yang telah mereka pelajari dengan baik. Selain itu, anak-anak dalam kondisi Gesture dan dalam kondisi bicara masing-masing menghasilkan satu repreentalion strategi equalizer. Namun, sikapnya secara signifikan lebih menekankan pada apa yang telah mereka pelajari daripada kelompok bicara ...... satu temuan tak terduga dari penelitian kami adalah tentang tes lanjutan tapi sebenarnya, kami percaya bahwa naskah EStural yang kami berikan kepada anak-anak memang membantu mereka tampil bagus di posttest. Namun, pengaruh yang menguntungkan diberikan karena fakta bahwa skrip verbal juga membantu skrip verbal dalam penelitian kami mencapai keberhasilan selama pengajaran dan 9 dari anak-anak tersebut (64) mempertahankan kesuksesan mereka sampai ke posisi posttest, dibandingkan dengan 8 dari 21 (38 dalam sebuah studi yang sebanding di mana anak-anak dilibatkan dalam pidato dan tidak diikutsertakan mengikuti sebuah skrip verbal (Cook & Goldin-Meadow, 2006. Namun, fokus dari naskah verbal tidak berumur pendek, namun hanya 3 dari 12 anak-anak Dengan suas yang sempurna dalam skrip ver bal dalam penelitian kami terus berlanjut di fonow-up, pada saat itu, anak-anak terlihat seperti mereka yang tidak pernah memiliki naskah lisan. Dengan demikian, anak-anak yang menggunakan naskah lisan memiliki kemampuan untuk menguasai kesetaraan matematika.Tetapi hanya anak-anak yang menggunakan sketsa gestur yang benar-benar mengendarai konsep tersebut dan mampu terus memecahkan masalah dengan benar satu bulan kemudian Anak-anak dalam penelitian kami mungkin telah mampu memperoleh pengetahuan yang didapat selama saya nstruksi paling tidak sebulan karena mereka sepu selama periode intervening. Tidur telah terbukti mengkonsolidasikan pembelajaran di berbagai domain (Drosopoulos, Wagner, & Bom, 2005. Fenn, Nusbaum, & Margoliash, 2003 Fischer, Hallschmid, Elsner, & Bom, 2002: Kami, Tanne, Rubenstein, Askenasy, & Sagi, 199). Namun perlu dicatat, bahwa dalam penelitian kami memberi isyarat selama pembelajaran tampaknya berperan dalam membantu konsolidasi.

4.2. Bagaimana gerakan mengarah pada pembelajaran yang berlangsung? 
     Data yang dilaporkan di sini memberikan bukti kuat bahwa isyarat dapat memainkan peran kausal dalam perubahan pengetahuan. Namun mereka tidak memberi tahu kita bagaimana sikap memainkan peran ini. Satu kemungkinan adalah bahwa isyarat menawarkan format representasi yang memerlukan sedikit usaha untuk menghasilkan, sehingga membebaskan sumber daya yang kemudian dapat digunakan untuk mengkodekan informasi baru dalam format yang lebih langgeng. Memang, mengungkapkan informasi dalam pidato dan isyarat telah ditunjukkan untuk memberi sedikit permintaan pada memori kerja daripada mengungkapkan informasi yang sama dalam pidato saja (Goldin-Meadow, Nusbaum, Kelly, & Wagner, 2001; Wagner, Nusbaum, & Goldin-Meadow , 2004). Dan mewakili informasi dengan cara yang meminimalkan tuntutan pada memori kerja telah terbukti terkait dengan pembelajaran (Brunken, Steinbacher, Plass, & Leutner, 2002; Mayer & Moreno, 1998).
     Kemungkinan lain adalah bahwa memberi isyarat secara langsung memfasilitasi pengkodean dalam memori jangka panjang. Mengekspresikan informasi dalam isyarat dapat menghasilkan jejak memori yang lebih kuat dan lebih banyak daripada mengekspresikan informasi dalam ujaran karena motornya lebih besar Gerakan yang terlibat atau karena potensi berbasis aksi, encoding tubuh. Memang, ketika para pembicara diminta untuk menggunakan tangan mereka untuk melakukan sebuah acara yang disampaikan dalam sebuah kalimat, ingatan mereka akan acara tersebut lebih baik daripada jika mereka hanya membaca senar atau menerjemahkannya ke dalam bahasa lisan yang lain (Cohen, 1981; von Essen & Nils- son, 2003). Demikian pula, anak-anak memahami cerita dengan lebih baik saat mereka memberlakukan ceritanya dengan objek atau membayangkan membuat cerita dengan objek daripada saat mereka membaca cerita dua kali (Glenberg, Gutierrez, Levin, Japuntich, & Kaschak, 2004), dan para aktor mengingat garis yang mereka hasilkan sementara bergerak lebih baik dari pada garis yang mereka hasilkan sambil berdiri diam (Noice & Noice, 1999, 2001). Sikap juga dapat mempengaruhi pembelajaran dengan melibatkan lingkungan eksternal. Gerakan, terutama gerakan menunjuk yang menunjukkan benda dan lokasi di dunia, dapat mempermudah peserta didik untuk menghubungkan representasi mental berkembang ke bagian lingkungan eksternal yang relevan. Jenis landasan ini kemudian dapat mengurangi kesalahan dalam pengkodean dan mengurangi permintaan pemrosesan (Ballard, Hayhoe, Pook, & Rao, 1997, sementara pada saat yang sama memfasilitasi wawasan baru mengenai masalah ini (Grant & Spivey, 2003).
43. Seberapa umum efek gerak tubuh terhadap pembelajaran?
     Apakah efek yang kita temukan untuk memberi isyarat yang umum? Kami tidak dapat membedakannya dari penelitian kami karena kami hanya mengajarkan satu set gerakan tubuh - yang menginstruksikan strategi penyusun kesetaraan. Namun, dalam pekerjaan yang terkait, kami telah menemukan bahwa, ketika hanya diminta untuk menggerakkan tangan mereka saat menjelaskan masalah matematika yang sama, anak-anak jarang menghasilkan strategi equalizer dalam isyarat, karena mereka menghasilkan stralegies lain dalam isyarat dan strategi tersebut juga mendorong pembelajaran (Lanjutan , Cook, Mitchell, & Goldin-Mea- dow, di tekan). Jadi, efek yang kita obscrved dalam penelitian kami, yang secara eksperimental memanipulasi gerak tubuh yang diproduksi anak-anak, tampaknya tidak terbatas pada gambaran yang kami pilih. Berbagai jenis gesture sepertinya bisa mempromosikan leaming dalam matematika 
       Sepertinya tidak mungkin, bagaimanapun, bahwa memberi isyarat akan memudahkan kinerja di semua domain. Seperti pidato (Schooler et al., 1993), gesture memiliki potensi untuk membantu sekaligus menghambat kinerja. Sikap bisa, misalnya, menarik perhatian pada fitur yang tidak membantu dalam masalah ini. Schwartz dan Black (1996) menemukan bahwa orang dewasa yang diijinkan untuk memberi isyarat saat memecahkan masalah gigi menggunakan strategi di mana mereka meniru pergerakan setiap gigi individu, seringkali dalam gerak tubuh mereka. Sebaliknya, orang dewasa yang dicegah memberi isyarat strategi berbasis aturan yang dihasilkan, yang merupakan cara yang lebih efisien untuk menyelesaikan tugas gigi (Alibali, Spencer, & Kita, 2004. seperti yang dijelaskan dalam Ali bali, 2005). Jadi, sama seperti verbalisasi tugas keras-untuk-verbalisasi dapat mengganggu kinerja (Schooler, Fiore, & Brandimonte, 1997), memberi isyarat pada tugas yang tidak mudah dikenali mungkin akan mengganggu kinerja. Apa yang telah kami tunjukkan di sini adalah bahwa memberi isyarat pada tugas yang sesuai dengan isyarat dapat dilakukan bahkan ketika pemberi isyarat diberi tahu bagaimana cara untuk pindah.
      Perbaiki sekitar Anak-anak dalam menerima pelajaran yang sama dan jumlah yang sama segera setelah pelajaran. Tapi hanya mereka yang memberi isyarat saat belajar mempertahankan pengetahuan yang mereka dapatkan dari instruksinya karena memberi isyarat kepada mereka cara alternatif, dan terkandung, untuk mewakili masalah. Jelas bahwa gerakan memberi semangat kepada para peneliti teknik untuk memanipulasi, dan karena itu mengeksplorasi, mengkonsolidasikan ingatan jangka panjang. Selain itu, dorongan memberi para pendidik teknik untuk memperbaiki pembelajaran pada siswa mereka. Salah satu cara untuk mempromosikan perubahan yang abadi di benak anak-anak adalah mengubah apa yang mereka lakukan, bukan apa yang mereka kataka.
 Ucapan Terima Kasih
     Penelitian ini didukung oleh Grant Number RO1 HD47450 dari NICHD ke Goldin-Meadow. Kami mengucapkan terima kasih kepada Sian Beilock atas komentar yang bermanfaat mengenai naskah manuskrip ini sebelumnya, dan kami berterima kasih kepada para siswa, guru, dan kepala sekolah di sekolah yang berpartisipasi atas dukungan mereka yang dermawan.

Share:

Postingan Populer