• Konstruksi Generator Sinkron

    Pada dasarnya konstruksi dari generator sinkron adalah sama dengan konstruksi motor sinkron, dan secara umum biasa disebut mesin sinkron. Ada dua struktur kumparan pada mesin sinkron yang merupakan dasar kerja dari mesin tersebut, yaitu...

  • Driver Motor DC Untuk Mengatur Arah Putaran

    ksi kontrol dasar yang digunakan dalam kontroler analog industri. Klasifikasi kontroler analog industri. Klasifikasi kontroler analog industri. Kontroler analog industri dapat diklasifikasikan sesuai dengan aksi pengontrolannya sebagai berikut

  • AKSI KONTROL DASAR

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)

    Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) adalah sarana di atas tanah untuk menyalurkan tenaga listrik dari Pusat Pembangkit ke Gardu Induk (GI) atau dari GI ke GI lainnya yang terdiri dari kawat/konduktor yang direntangkan antara tiang – tiang melalui isolator – isolator dengan sistem tegangan tinggi (30 KV, 70 KV, dan 150 KV). (PLN, 1981)

  • Sistem Kerja Pintu Pengaman Jalur Perlintasan Kereta Api

    Pintu pengaman jalur kereta api dipasang pada jalur pertemuan antara jalan dan rel kereta api. Pintu pengaman ini akan bekerja untuk menghentikan kendaraan yang berada pada jalan agar tidak melintas di rel dikarenakan kereta api akan melintas.

Sistem kontrol otomatik Hydraulik


Sinyal berbentuk Minyak pelumas atau Oli, cairan, tekanan Oli 70 bar

Satuan tekanan = Nm^2 = pascal = Pa
Tekanan udara 1 bar = 105 Pa
Pengontrolan Hydrolik
Sistem hydrolik terdiri dari : Bagian tenaga (power pack), bagian sinyal, bagian pemroses sinyal, dan bagian pengendalian sinyal.

Bagian tenaga terdiri dari pompa hydrolik, katup pengatur tekanan, dan katup satu arah.

 Cairan Hydrolik
Cairan hydrolik yang digunakan pada sistem hydrolik harus memiliki ciri-ciri (propertiy) yang sesuai dengan kebutuhan.

Adapun fungsi/tugas cairan hydolik pada sistem hydrolik antara lain:
1. Sebagai penerus tekanan atau penerus daya.
2. Sebagai pelumas untuk bagian -bagian yang bergerak.
3. Sebagai pendingin komponen yang bergesekan.
4. Sebagai   bantalan   dari   terjadinya  hentakan  tekanan  pada  akhir langkah.
5. Pencegah korosi.
6. Penghanyut bram/chip yaitu partikel-partikel kecil yang mengelupas dari komponen.
7. Sebagai pengirim signal

Komponen/Elemen utama sistem hydrolik

1.  Pompa Hydrolik
Pompa hydrolik berfungsi untuk mengisap fluida oli hydrolik yang akan disirkulasikan dalam sistem hydrolik. Sistem hydrolik merupakan siklus yang tertutup, karena fluida oli disirkulasikan ke rangkaian hydrolik selanjutnya akan dikembalikan ke tangki penyimpan oli.

Jenis-jenis pompa hydrolik

a.  Pompa Roda Gigi
Pompa ini terdiri dari 2 buah roda gigi yang dipasang saling merapat. Perputaran roda gigi yang saling berlawanan arah akan mengakibatkan kevakuman pada sisi hisap, akibatnya oli akan terisap masuk ke dalam ruang pompa, selanjutnya dikompresikan ke luar pompa hingga tekanan tertentu.

Tekanan pompa hydrolik dapat mencapai 100 bar.


b.  Pompa Sirip Burung
Pompa terdiri dari dari banyak sirip yang dapat flexible bergerak di dalam rumah pompanya. Bila volume pada ruang pompa membesar, maka akan mengalami penurunan tekanan, oli hydrolik akan terhisap masuk, kemudian diteruskan ke ruang kompressi. Oli yang bertekanan akan dialirkan ke sistem hydrolik.



c. Pompa Torak Aksial
Pompa hydrolik akan mengisap oli melalui pengisapan yang dilakukan oleh piston yang digerakkan oleh poros rotasi. Gerak putar dari poros pompa diubah menjadi gerakan torak translasi, kemudian terjadi langkah hisap dan kompressi secara bergantian. Sehingga aliran oli hydrolik menjadi kontinyu.



 d. Pompa Torak Radial
Pompa ini berupa piston-piston yang dipasang secara radial, bila rotor berputar secara eksentrik, maka piston2 pada stator akan mengisap dan mengkompressi secara bergantian. Gerakan torak ini akan berlangsung terus menerus, sehingga menghasilkan alira oli /fluida yang kontinyu.


e. Pompa Sekrup
Pompa ini memiliki dua rotor yang saling berpasangan atau bertautan (engage), yang satu mempunyai bentuk cekung, sedangkan lainnya berbentuk cembung, sehingga dapat memindahkan fluida oli secara aksial ke sisi lainnya. Kedua rotor itu identik dengan sepasang roda gigi helix yang saling bertautan.




2. Aktuator Hydrolik
Aktuator hydrolik dapat berupa silinder hydrolik, maupun motor hydrolik.
Silinder Hydrolik bergerak secara translasi
Motor hydrolik bergerak secara rotasi.

Dilihat dari daya yang dihasilkan aktuator hydrolik memiliki tenaga yang lebih besar (dapat mencapai 400 bar atau 4x107 Pa).
Silinder Hydrolik Penggerak Ganda
Silinder Hydrolik penggerak ganda akan melakukan gerakan maju dan mundur akibat adanya aliran fluida/oli hydrolik yang dimasukkan pada sisi kiri (maju) dan sisi kanan (mundur)





Aktuator Rotasi
Motor Hydrolik roda gigi
Motor Hydrolik merupakan alat untuk mengubah tenaga aliran fluida menjadi gerak rotasi.


Prinsip kerja Motor hydrolik : Aliran Minyak hydrolik yang bertekanan tinggi akan diteruskan memutar roda gigi yang terdapat dalam ruangan pompa selanjutnya akan dirubah menjadi gerak rotasi.




Katup Pengatur Tekanan
Katup pembatas tekanan, katup ini dilengkapi dengan pegas yang dapat diatur. Bila tekanan hydrolik berlebihan, maka pegas akan membuka dan mengalirkan fluida ke saluran pembuangan.

Macam-macam Katup pembatas tekanan



Pompa Hydrolik dan Jenisnya
a. Pompa Roda Gigi Tipe Crescent


Cara kerja pompa ini dapat dilihat pada gambar berikut ini:




ipe Geretor
Pompa ini terdiri atas inner rotor yang dipasak dengan poros penggerak dan rotor ring. Rotor ring atau outer rotor yang merupakan roda gigi dalam diputar oleh inner rotor yang mempunyai jumlah gigi satu lebih kecil dari jumlah gigi outer ring gear. Ini bertujuan untuk membentuk rongga pemompaan. Inner rotor dan outer rotor berputar searah.

b. Pompa Roda Gigi Tipe Gerotor





16nced Ve mpa Kipas Balanced
Pompa ini menggunakan rumah pompa yang bagian dalamnya berbentuk elips dan terdapat dua buah lubang pemasukkan (inlet) serta dua buah lubang pengeluaran outlet yang posisinnya saling berlawanan arah. Dibuat demikian agar tekanan radial dari cairan hydrolik saling meniadakan sehingga terjadilah keseimbangan (balanced) Vane (kipas) yang bentuknnya seperti gambar dipasang pada poros beralur (slots) karena adanya gaya sentrifugal selama rotor berputar maka vane selalu merapat pada rumah pompa sehingga terjadilah proses pemompaan.
c. Pompa Roda Gigi Balanced Vance





16.7 Pompa Torak Radial (Radial Piston P
Pompa piston ini gerakan pemompaannya radial yaitu tegak lurus poros. Piston digerakan oleh sebuah poros engkol (eccentric crankshaft) sehingga besar langkah piston adalah sebesar jari-jari poros engkol. Penghisapan terjadi pada waktu piston terbuka sehingga oli hydrolik dari crankshaft masuk ke dalam silinder. Pada langkah pemompaan cairan ditekan dari setiap silinder melalui check valve ke saluran tekan. Pompa ini dapat mencapai tekanan hingga 63 Mpa.

d. Radial Piston Pump






Pada pompa ini, blok silinder berputar pada satu sudut untuk dapat memutar poros. Batang torak dipasang pada flens poros penggerak dengan menggunakan ball joint. Besar langkah piston tergantung pada besar sudut tekuk Fixed displacement piston pump besar sudut (offset engle) berkisar 25°.

e. Axis Piston Pump





16.9 Instalasi Pompa Hydrolik
Kopiling
Kopiling adalah komponen penyambung yang menghubungkan penggerak mula (motor listrik) dengan pompa hydrolik. Kopling ini mentrasfer momen puntir dari motor ke pompa hydrolik. Kopling merupakan bantalan diantara motor dan pompa yang akan mencegah terjadinnya hentakan/getaran selama motor mentrasfer daya ke pompa dan selama pompa mengalami hentakan tekanan yang juga akan sampai ke motor.

 Kopling juga menseimbangkan/ mentolerir adanya error alignment (ketidak sentrisan) antara poros motor dengan poros pompa.

Contoh-contoh bahan kopling.
Pada umumnya kopling dibuat dari bahan
Karet (Rubber couplings), Roda gigi payung (Spiral bevel gear cupling) dan  Clucth dengan perapat plastik (square tooth cluth with plastic inseres)
Tangki hydrolik (Reservoir )

Tangki hydrolik (reservoir) merupakan bagian dari instalasi unit tenaga.

Konstruksi tangki hydrolik.
Konstruksi Tangki Hydrolik Reservoir dan simbolnya



Simbolnya




Fungsi /tugas tangki hydrolik
1. Sebagai tempat atau tandon cairan hydrolik.
2. Tempat pemisahan air, udara dan pertikel-partikel padat yang hanyut dalam cairan hydrolik.
3. Menghilangkan panas dengan menyebarkan panas ke seluruh badan tangki.
4. Tempat memasang komponen unit tenaga seperti pompa, penggerak mula, katup-katup akumulator dan lain-lain.


Baffle Plate
Baffle Plate berfungsi sebagai pemisah antara cairan hydrolik baru datang dari sirkulasi dan cairan hydrolik yang akan dihisap oleh pompa. Juga berfungsi untuk memutar cairan yang baru datang sehingga memiliki kesempatan lebih lama untuk menyebarkan panas, untuk mengendapkan kotoran dan juga memisahkan udara serta air sebelum dihisap kembali ke pompa.

Filter (Saringan)
Filter berfungsi untuk menyaring kotoran-kotoran atau kontaminan yang berasal dari komponen sistem hydrolik seperti bagian-bagian kecil yang mengelupas, kontaminasi akibat oksidasi dan sebagainya.

Sesuai dengan tempat pemasangannya, ada macam-macam filter yaitu :
a. Suction filter, dipasang pada saluran hisap dan kemungkinannya di dalam tangki.

b. Pressure line filter, dipasang pada saluran tekan dan berfungsi untuk mengamankan komponen-komponen yang dianggap penting.

c. Return line filter, dipasang pada saluran balik untuk menyaring agar kotoran jangan masuk ke dalam tangki.
Kebanyakan sistem hydrolik selalu memasang suction filter.

Gambar Suction Filter







1 Unit Pengatur (Control Element)
Cara-cara pengaturan/pengendalian  sistem hydrolik.

Susunan urutannya dapat di jelaskan sebagai berikut :
1. Isyarat (Sinyal) masukan atau input element yang mendapat energi langsung dari pembangkit aliran fluida (pompa hydrolik) yang kemudian diteruskan ke pemroses sinyal.

2. Isyarat Pemroses atau processing element yang memproses sinyal masukan secara logic untuk diteruskan ke final control element.

3. Sinyal pengendali akhir (final control element) akan mengarahkan output yaitu arah gerakan aktuator (working element) dan ini merupakan hasil akhir dari sitem hydrolik.


Menurut fungsinya katup-katup dikelompokan sebagai berikut :
a. Katup Pengarah (Directional Control Valves)
b. Katup Satu Arah (Non Return Valves)
c. Katup Pengatur Tekanan (Pressure Control Valves)
d. Katup Pengontrol Aliran (Flow Control Valves)
e. Katup Buka-Tutup (Shut-Off Valves).


2. Viskometer
    Viskometer adalah alat untuk mengukur besar viskositas suatu cairan.




Gambar Viskometer

Besar viskositas kinematik adalah kecepatan bola jatuh setinggi h dibagi dengan berat jenis cairan yang sedang diukur.







Share:

AKSI KONTROL DASAR




  Kontroler otomatis membandingkan nilai sebenarnya dari keluaran sistem secara keseluruhan (plant) dengan mengacu pada. masukan (nilai yang dikehendaki), menentukan penyimpangan, dan menghasilkan sinyal kontrol yang akan mengurangi penyimpangan yang akan menjadi nol atau nilai yang kecil. Cara bagaimana kontroler otomatis tersebut menghasilkan sinyal kontrol dinamakan aksi kontrol.



 AKSI KONTROL DASAR


Aksi kontrol dasar yang digunakan dalam kontroler analog industri. Klasifikasi kontroler analog industri.
Klasifikasi kontroler analog industri. Kontroler analog industri dapat diklasifikasikan sesuai dengan aksi pengontrolannya sebagai berikut


1.    Kontroler dua posisi atau “on-off”
2.    Kontroler proporsional
3.    Kontroler integral
4.    Kontroler proporsional ditambah integral
5.    Kontroler proporsional ditambah turunan
6.    Kontroler proporsional ditambah turunan ditambah integral


Sebagian besar kontroler di industri menggunakan listrik atau fluida-tekan seperti minyak atau udara sebagai sumber daya. Kontroler otomatis juga dapat diklasifikasikan sesuai dengan jenis daya yang digunakan dalam operasi, seperti kontroler pneumatik, kontroler hidrolika, atau kontroler elektronik. Jenis apa yang harus digunakan diputuskan berdasarkan sifat “plant” dan kondisi kerja mencakup beberapa pertimbangan seperti keamanan, biaya, ketersediaan, keandalan, ketelitian, berat, dan ukuran.


Kontroler otomatis, aktuator, dan sensor (elemen pengukur).

Gambar 1 adalah diagram blok dari sistem kontrol industri, yang terdiri dari kontroler otomatis, aktuator, “plantt, dan sensor (elemen pengukur). Kontroler mendeteksi sinyal kesalahan aktuasi, yang biasanya mempunyai tingkat daya sangat rendah, dan memperkuatnya menjadi tingkat yang tingginya mencukupi. (Jadi kontroler otomatis terdiri dari detektor kesalahan dan penguat atau amplifier. Seringkali rangkaian umpan balik yang sesuai, bersama dengan penguat, digunakan untuk mengubah sinyal kesalahan aktuasi dengan memperkuat dan kadang-kadang dengan diferensiasi dan atau integrasi untuk menghasilkan sinyal control yang lebih baik). Aktuator adalah alat yang menghasilkan masukan ke “plant” sesuai dengan sinyal kontrol sedemikian sehingga sinyal umpan balik akan berkaitan dengan sinyal masukan acuan. Keluaran dari kontroler otomatis dimasukkan ke aktuator, seperti misalnya motor atau katup pneumatic, motor hidrolika, atau motor listrik.
Sensor atau elemen pengukur adalah alat yang mmgubah variabel keluaran menjadi variable yang sesuai, seperti perpindahan, tekanan, atau tegangan, yang dapat digunakan untuk membandingkan keluaran dengan sinyal masukan acuan. Elemen ini berada pada jalur umpan balik dari sistem loop tertutup. Titik “set” dari kontroler harus diubah kemasukan acuan dengan unit yang sama dengan sinyal umpan balik dari sensor atau elemen pengukur.



Kontroler beroperasi otomatis. Kebanyakan kontroler otomatis industri, dipisahkan unit-unit sebagai elemen pengukur dan actuator. Dalam kasus yang sangat sederhana seperti kontroler beroperasi otomatis elemen-elemennya disusun dalam satu unit. Kontroler beroperasi menggunakan daya dari elemen pengukur dan sangat sederhana serta murah. Suatu contoh kontroler beroperasi otomatis dituniukan pada Gambar 3.2. Titik ditentukan dengan mengatur gaya pegas. Tegangan kontrol diukur dengan suatu diafragma. Sinyal pembangkit kesalahan adalah gaya yang beraksi pada diafragma. Posisi diapragma ini ditentukan oleh pembuka katup.
Operasi dari kontrol beroperasi otomatis adalah sebagai berikut : Anggap tegangan keluaran lebih rendah dari tegangan acuan, seperti ditentukan oleh titik set. Selanjutnya gaya pegas ke bawah lebih rendah dari gaya tekan ke atas, menyebabkan gerak ke bawah pada diapragma. Hal ini meningkatkan laju aliran dan tekanan keluaran. Apabila gaya tekan ke atas sama dengan gaya pegas ke bawah maka katup tetap dan laju aliran tetap. Sebaliknya apabila tekanan keluaran lebih besar dari tekanan acuan, katup membuka kecil dan menurunkan laju aliran yang melalui katup pembuka. Suatu kontroler beroperasi sendiri lebih banyak digunakan untuk kontrol tekanan air maupun gas.
Aksi kontrol. Berikut enam aksi kontrol dasar yang biasa digunakan pada kontroler analog industri: aksi kontrol dua posisi atau on-off, proporsional integral, proporsional ditambah integral, proporsional ditambah turunan dan proporsional ditambah integral ditambah turunan. Keenam aksi kontrol ini akan dibicarakan pada bab ini. Perhatikan bahwa pengetahuan karakteristik dasar berbagai aksi kontrol sangat penting bagi ahli kontrol untuk memilih yang terbaik dan paling cocok untuk penggunaannya.
Aksi kontrol dua posisi atau on-off. Dalam sistem kontrol dua posisi, elemen pembangkit hanya mempunyai dua posisi tertentu yaitu on dan off. Kontrol 2 posisi atau on-off relatif sederhana dan tidak mahal dan dalam hal ini sangat banyak digunakan dalan sistem kontrol industri maupun domestik.
Ambil sinyal keluaran dari kontroler u(t) tetap pada salah satu nilai maksimum atau minimum tergantung apakah sinyal pembangkit kesalahan positif atau negatif, sehingga




 Gambar 3.3(a) Diagram blok kontroler on-off; (b) dagram blok kontroler on-off dengan jurang diferensial
dengan U1 dan U2 konstan. Nilai minimum U2, biasanya nol atau –U1. Kontroler dua posisi umumnya merupakan perangkat listrik dan sebuah katup yang dioperasika dengan selenoida. Kontroler pneumatik proporsional dengan penguatan yang sangat tinggi beraksi sebagai kontroler dua posisi dan kadang-kadang disebut kontroler pneumatik dua posisi.
Gambar 3.3(a) dan (b) menunjukkan diagram blok kontroler dua posisi. Daerah dengan sinyal pembangkit kesalahan yang digerakkan sebelum terjadi switching disebut jurang diferensial. Jurang diferensial ditunjukkan pada Gambar 3.3(b). Suatu jurang diferensial menyebabkan keluaran kontroler u(t) tetap pada nilai awal sampai sinyal pembangkit kesalahan telah bergerak mendekati nilai nol. Dalam beberapa kasus jurang diferensial terjadi sebagai akibat adanya penghalang yang tidak dikehendaki dan gerakan yang hilang, sering juga hal ini dimaksudkan untuk mencegah operasi yangberulang-ulang dari meikanisme on-off.
Tinjau sistem kontrol tingkat cairan pada Gambar 3.4(a) dengan katup elektromagnet seperti pada Gambar 3.4(b) digunakan untuk mengontrol laju aliran masuk. Katup ini bisa dalam posisi terbuka atau tertutup. Dengan sistem koltrol dua posisi ini, laju aliran masuk dapat positif, tetap, atau nol. Seperti pada Gambar 3.5, sinyal keluaran secara terus-menerus bergerak antara dua batas yang diperlukan untuk membuat elemen pembangkit bergerak dari satu posisi ke posisi lainnya. Perhatikan bahwa kurva keluaran berikut mengikuti satu dari dua kurva eksponensial, satu berhubungan dengan kurva pengisian dan satu kurva pengosongan. Osilasi keluaran antara dua batas merupakan karakteristik tanggapan khusus dari sistem kontrol dua posisi.



Gambar 3.5 Kurva tinggi h(t) versus t untuk sistem pada Gambar 3.4(a).
Dari Gambar 3.5, kita ketahui bahwa amplitudo osilasi keluaran dapat direduksi dengan mengurangi jurang diferensial. Pegurangan jurang diferensial menambah nilai penghubung on-off per menit dan mengurangi waktu hidup komponen.
Besaran jurang diferensial harus ditentukan dari pengamatan seperti ketepatan yang diperlukan dan waktu hidup komponennya.
Aksi kontrol proporsional. Untuk kontroler dengan aksi kontrol proporsional, hubungan antara masukan kontroler u(t) dan sinyal pembangkit kesalahan e(t) adalah


Apapun mekanisme sebenarnya dan apapun bentuk gaya operasi kontroler proporsional pada dasarnya suatu penguat dengan penguatan yang dapat disetel. Diagram blok kontroler ini ditunjukkan pada Gambar 3.6.

Aksi kontrol integral. Pada kontroler dengan aksi kontrol integral nilai masukan kontroler u(t) diubah pada laju proporsional dari sinyal pembangkit kesalahan e(t). Sehingga




                          
atau fungsi alih kontroler ini adalah




dengan Kp adalah penguatan proporsional dan Td konstanta yang disebut waktu turunan. Kp dan Td keduanya dapat ditentukan. Aksi kontrol turunan kadang-kadang disebut laju kontrol dengan besaran keluaran kontroler proporsional ke laju perubahan sinyal pembangkit kesalahan. Waktu turunan Td adalah watku interval dengan laju aksi memberikan pengaruh pada aksi kontrol proporsional. Gambar 3.9(a) menunjukkan diagram blok kontroler proporsional ditambah turunan. Jika sinyal pembangkit kesalahan e(t) unit fungsi landai seperti dituniukkan pada Gambar 3.9(b), maka keluaran kontroler menjadi seperti pada Gambar 3.9(c). Seperti dapat dilihat pada Gambar 3.9(c), aksi kontrol turunan mempunyai karakter antisipasi. Namun demikian, aksi kontrol turunan tidak dapat mengantisipasi aksi lain yang belum pernah dilakukan.
Satu pihak aksi kontrol mempunyai keuntungan mengantisipasi, tapi di pihak lain juga mempunyai kelemahan yaitu adanya gangguan sinyal penguatan yang dapat bercampur pada pembangkit (aktuator).
Perhatikan bahwa aksi kontrol turunan tidak pemah digunakan sendiri karena aksi kontrol ini hanya efektif selama periode transient.
Aksi kontrol proporsional ditambah integral ditambah turunan. Kombinasi dari aksi kontrol proporsional, aksi kontrol integral, dan aksi kontrol turunan disebut aksi kontrol proporsional ditambah integral ditambah turunan. Kombinasi ini mempunyai keuntungan dibanding masing-masing kontroler.
Persamaan dengan tiga kombinasi ini diberikan oleh






Share:

SIMULASI SISTEM KENDALI

Simulasi merupakan metode memperagakan sesuatu dalam bentuk tiruanyang mirip dengan keadaanyang sesungguhnya Atau dapat pula diartikan penggambaran suatu sistem atau proses dengan peragaan berupa model matematis yang selanjutnya dengan suatu program komputer dapat ditunjukkan Performansi SistemDengan demikian dapat dilakukan analisis dan desain sistem.  

Simulasi  bertujuan untuk memperoleh jawaban permasalahanSimulasi akan menggantikan permasalahanyang sebenarnya ke dalam suatumodel tiruanyang menjadi permasalahan baruyang lebih sederhana atau mudah untuk penyelesaiannya.
              Simulation : Pekerjaan tiruan (meniru)
              Simulate    : Menirukan
              Simulator  : SESUATU yang menjadi pengganti yang
                                   Sebenarnya (Diawali dengan Prototype)

Sebagai Key word melakukan simulasi adalah :
1. Menguasai program Komputer (Sofware) yang digunakan dan Mengetahui kemampuan software tersebut dalam hal disain dan analisis sistem kendali konvensional, atau sistem kendali modern
2. Mampu melakukan pemodelan fisik sistem kebentuk matematis (Model matematis harus mewakili sistem fisik).
3. Menguasai Metoda analisis dan Disain yang digunakan
 
Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak menciptakan perangkat lunak komputeryang dapat digunakan untuk mensimulasikan suatu sistem atau prosesSoftware program Komputer Yang sering dipakai:

  Basic
  Fortran
  Matlab/Simulink
  C, C+, C++
  Pascal
  Turbo Pascal
  Dynamo
  Dinamo Plus
  Festo Fluidsim
Untuk melakukan simulasi, penentuan model sistem harus menggambarkan keadaan sistem yang sesungguhnya .

Model  Diskrit
Sekelompok  bilangan  yang menyatakan keadaan variabel sistem pada waktu tertentu (waktu berubah secara periodik). Dalam model diskrit, aktivitas sistem akan menghasilkan perubahan yang mendadak.

Share:

Driver Motor DC Untuk Mengatur Arah Putaran dan Kecepatan

Lama sudah saya tidak membuat postingan baru di blog saya ini dan saya rasa saya harus berterima kasih bias memposting artikel berikut ini. Beberapa hari yang lalu saya sedang mengerjakan program untuk alat teman saya yang sedang skripsi mengenai pengaturan kecepatan motor DC digital dengan ATmega 8535 dan tiba-tiba saja saya terpikir untuk membuat postingan mengenai driver motor DC untuk mengatur kecepatan dan arah putaran.

Ok..!! langsung saja ya gan. Rangkaian yang akan saya posting ini sudah saya uji coba dan berhasil. Baiklah, untuk rangkaian driver motor DC nya dapat dilihat pada gambar dibah ini:


Keterangan :                          
D1-D5 = 1N4002
Q1-Q5 = 2N3055
PD0-PD4 dihubungkan ke Pin mikrokontroller.

Untuk PD0 adalah output signal PWM untuk mengatur kecepatan putaran motor DC dan PD1-PD4 dapat diatur seperti table di bawah ini untuk menentukan putar kanan atau kiri:


Table diatas adalah table logika dimana logika 1 memiliki tegangan 5 volt dan 0 memiliki tegangan 0 volt untuk output mikrikontroller. Penggunaan diode D1-D5 pada rangkaian diatas adalah untuk menjamin mikrokontroller yang digunakan tidak rusak apabila tegangan basis-emitter mengganggu kinerja mikrokontroller. Untuk rangkaian diatas saya sudah uji coba dengan tegangan 12 volt bekerja dengan baik. Untuk tegangan supply lebih besar dari 12 volt belum saya coba, tetapi rangkaian driver untuk tegangan 24 volt rangkaiannya adalah seperti gambar dibawah ini:





Keterangan :
Q1-Q5 = 2N3055
Q6-Q10 = TIP31C
D1-D5 = 1N4002
Mungkin untuk saat ini sampai itu saja ya gan, kalau mau belajar beserta programmya silahkan kunjungi postingan saya yang lain berikut ini.
Dan jika ada yang ingin ditanyakan silahkan tanyakan di komentar ya gan. Terima kasih dan ikuti postingan-postingan terbaru saya. Jika ada saran untuk saya posting silahkan juga sarankan di komentar ya gan, sekali lagi terima kasih.












Share: