• Konstruksi Generator Sinkron

    Pada dasarnya konstruksi dari generator sinkron adalah sama dengan konstruksi motor sinkron, dan secara umum biasa disebut mesin sinkron. Ada dua struktur kumparan pada mesin sinkron yang merupakan dasar kerja dari mesin tersebut, yaitu...

  • Driver Motor DC Untuk Mengatur Arah Putaran

    ksi kontrol dasar yang digunakan dalam kontroler analog industri. Klasifikasi kontroler analog industri. Klasifikasi kontroler analog industri. Kontroler analog industri dapat diklasifikasikan sesuai dengan aksi pengontrolannya sebagai berikut

  • AKSI KONTROL DASAR

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)

    Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) adalah sarana di atas tanah untuk menyalurkan tenaga listrik dari Pusat Pembangkit ke Gardu Induk (GI) atau dari GI ke GI lainnya yang terdiri dari kawat/konduktor yang direntangkan antara tiang – tiang melalui isolator – isolator dengan sistem tegangan tinggi (30 KV, 70 KV, dan 150 KV). (PLN, 1981)

  • Sistem Kerja Pintu Pengaman Jalur Perlintasan Kereta Api

    Pintu pengaman jalur kereta api dipasang pada jalur pertemuan antara jalan dan rel kereta api. Pintu pengaman ini akan bekerja untuk menghentikan kendaraan yang berada pada jalan agar tidak melintas di rel dikarenakan kereta api akan melintas.

Tampilkan postingan dengan label telekomunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label telekomunikasi. Tampilkan semua postingan

JARINGAN KOMUNIKASI DATA

Share:

DETEKSI KESALAHAN DATA

Share:

Macam - macam Topologi Jaringan

Share:

DTE ( DATA TERMINAL EQUIPMENT )

Share:

Induktansi

Share:

Rangkaian RLC

Share:

Karakteristik Beberapa Jenis Bahan Penghantar Listrik

Seperti telah kita ketahui, bahwa untuk pelaksanaan penyaluran energi listrik dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu berupa saluran udara dan kabel tanah. Pada saluran Udara, terutama hantaran udara telanjang biasanya banyak menggunakan kawat penghantar yang terdiri atas: kawat tembaga telanjang (BCC, singkatan dari Bare Cooper Cable), Aluminium telanjang (AAC, singkatan dari All Aluminium Cable), Campuran yang berbasis aluminium (Al-Mg-Si), Aluminium berinti baja (ACSR, singkatan dari Aluminium Cable Steel Reinforced) dan Kawat baja yang berisi lapisan tembaga (Cooper Weld).

Sedangkan pada saluran kabel tanah, biasanya banyak menggunakan kabel dengan penghantar jenis tembaga dan aluminium, perkembangan yang sangat dominan pada saluran kabel tanah adalah dari sisi bahan isolasinya, dimana pada saat awal banyak menggunakan isolasi berbahan kertas dengan perlindungan mekanikal berupa timah hitam, kemudian menggunakan minyak ( jenis kabel ini dinamakan GPLK atau Gewapend Papier Lood Kabel yang merupakan standar belanda dan NKBA atau Normal Kabel mit Bleimantel Aussenumheullung yang merupakan standar jerman, dan jenis bahan isolasi yang terkini adalah isolasi buatan berupa PVC (Polyvinyl Chloride) dan XLPE (Cross-Linked Polyethylene). Jenis bahan isolasi PVC dan XLPE pada saat ini telah berkembang pesat dan merupakan bahan isolasi yang andal.

Di waktu yang lalu, bahan yang banyak digunakan untuk saluran listrik adalah jenis tembaga (Cu). Namun karena harga tembaga yang tinggi dan tidak stabil bahkan cenderung naik, aluminium mulai dilirik dan dimanfaatkan sebagai bahan kawat saluran listrik, baik saluran udara maupun saluran kabel tanah. Lagipula, kawat tembaga sering dicuri karena bahannya dapat dimanfaatkan untuk pembuatan berbagai produk lain.

Suatu ikhtisar akan disampaikan dibawah ini mengenai berbagai jenis logam atau campurannya yang dipakai untuk kawat saluran listrik, yaitu:

• Tembaga elektrolitik, yang harus memenuhi beberapa syarat normalisasi, baik mengenai daya hantar listrik maupun mengenai sifat-sifat mekanikal.

• Brons, yang memiliki kekuatan mekanikal yang lebih besar, namun memiliki daya hantar listrik yang rendah. Sering dipakai untuk kawat pentanahan.

• Aluminium, yang memiliki kelebihan karena materialnya ringan sekali. Kekurangannya adalah daya hantar listrik agak rendah dan kawatnya sedikit kaku. Harganya sangat kompetitif. Karenanya merupakan saingan berat bagi tembaga, dan dapat dikatakan bahwa secara praktis kini mulai lebih banyak digunakan untuk instalasi-instalasi listrik arus kuat yang baru dari pada menggunakan tembaga.

• Aluminium berinti baja, yang biasanya dikenal sebagai ACSR (Aluminium Cable Steel Reinforced), suatu kabel penghantar aluminium yang dilengkapi dengan unit kawat baja pada inti kabelnya. Kawat baja itu diperlukan guna meningkatkan kekuatan tarik kabel. ACSR ini banyak digunakan untuk kawat saluran hantar udara.

• Aldrey, jenis kawat campuran antara aluminium dengan silicium (konsentrasinya sekitar 0,4 % – 0,7 %), Magnesium (konsentrasinya antara 0,3 % - 0,35 %) dan ferum (konsentrasinya antara 0,2 % - 0,3 %). Kawat ini memiliki kekuatan mekanikal yang sangat besar, namun daya hantar listriknya agak rendah.

• Cooper-weld, suatu kawat baja yang disekelilingnya diberi lapisan tembaga.

• Baja, bahan yang paling banyak digunakan sebagai kawat petir dan juga sebagai kawat pentanahan.

Berdasarkan ikhtisar diatas, dapat dikatakan bahwa bahan yang terpenting untuk saluran penghantar listrik adalah tembaga dan aluminium, sehingga kedua bahan tersebut banyak digunakan sebagai kawat pengantar listrik, baik saluran hantar udara maupun kabel tanah.

Share:

INSTALASI MOTOR LISTRIK PADA INDUSTRI (MOTOR INDUKSI ROTOR SANGKAR)


INSTALASI MOTOR LISTRIK PADA INDUSTRI
(MOTOR INDUKSI ROTOR SANGKAR)


1.   PELAT NAMA DAN ARAH PUTARAN ROTOR
Pelat nama (name plate) dari sebuah motor mencantumkan harga-harga nominal dan data-  data teknis dari motor tersebut, yaitu :
a.       Nama pabrik pembuat
b.      Tegangan nominal (volt)
c.       Arus beban penuh nominal (Ampere)
d.      Daya keluaran (output) nominal (HP/KW)
e.       Frekuensi nominal (Hz, c/s) dan jumlah fasa
f.       Putaran per menit (RPM)
g.      Jumlah kutub, cos j, effisiensi
h.      Suhu lingkungan dan kenaikan suhu nominal (°C)
i.        Kelas isolasi, dan lain-lain.

Kelas isolasi   :  menyatakan bahan-bahan yang dipergunakan untuk isolasi kumparan dan bagian-bagian konduktif lainnya.
Kelas A          :  Pita katun, sarung katun, serat, kertas kraft, dan sebagainya; dicelup dengan varnis, suhu maksimum 105°C.
Kelas E          :  Resin polyester, dan sebagainya; suhu maksimum 120°C.
Kelas B          :  Epoksi, mika, serat gelas, dan sebagainya; suhu maksimum 130°C.
Kelas F          :  Kain gelas di-varnis, asbes di-vArnis, mika, dan sebagainya; suhu maksimum 155°C.

       Arah putaran motor listrik menurut standar MEE (Masyarakat Ekonomi Eropah) : arah putaran sebuah motor, dilihat menghadap sisi puli porosnya seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, akan ke kanan kalau terminal U dihubungkan ke fasa R, terminal V ke fasa S dan terminal W ke fasa T. Untuk motor-motor dengan kaki yang kotak terminalnya harus berada di sebelah kiri, rumah motornya dibalik. Karena itu kalau dihubungkan dengan urutan fasa U-R, V-S, dan W-T, motornya akan berputar ke kiri jika dilihat menghadap sisi pulinya.

Gambar 1

2.   HUBUNGAN KUMPARAN MOTOR
Identifikasi hubungan kumparan motor menurut standar IEC 34-8 antara lain adalah sebagai berikut :
A.    1 kecepatan – 1 kumparan

                       a) Terminal motor                                            b) Kumparan motor
Gambar 2

Motor-motor yang mempunyai hubungan kumparan seperti di atas dapat digunakan dalam hubungan bintang (Y) atau hubungan delta (D), tergantung kepada sistem tegangan suplai dan sistem tegangan motornya. Kalau pada sebuah pelat nama (name plate) motor tertera : tegangan 380/660 V, ini berarti bahwa kumparan-kumparan motor tersebut harus mendapat suplai 380 V karena tegangan yang lebih rendah adalah tegangan yang harus dihubungkan dengan kumparan motor. Kalau dihubungkan ke jaringan 220/380 V, motor ini harus digunakan dalam hubungan delta.






B.     2 kecepatan – 2 kumparan terpisah
                                   
               a) Terminal Motor                                             b) Kumparan Motor
Gambar 3

C.     2 kecepatan - 1 kumparan dengan sadapan tengah
                                                            Putaran lambat:                           Putaran cepat:
                 

           a) Terminal Motor                                     b) Hubungan Kumparan Motor
                                                              Gambar 4












3.      KOMPONEN-KOMPONEN PENGAMAN DAN PENGENDALI MOTOR
Berbagai macam komponen pengaman dan pengendali pada sebuah motor listrik dapat dilihat melalui gambar di bawah ini :

Gambar 5

3.1.            KOMPONEN PENGAMAN
Komponen-komponen pengaman minimum pada sebuah motor listrik adalah pengaman hubung singkat dan pengaman beban lebih. Untuk pengaman hubung singkat biasanya digunakan pemutus daya atau sekring (fuse), sedangkan untuk pengaman beban lebih digunakan Thermal Overload Relay. Pemutus daya yang banyak digunakan adalah MCCB (Moulded Case Circuit Breaker).
Komponen-komponen pengaman yang lain adalah :
-        pengaman thermis
-        pengaman kehilangan fasa, dan lain-lain.

3.1.1  MCCB ( Moulded Case Circuit Breaker)
      MCCB terdiri dari
·         peralatan pengsaklaran,
·         pemadaman busur api
·         pengetripan,
dirakit dalam satu unit dan dimuat dalam kotak cetakan tahan panas dan busur api.
      MCCB dapat secara otomatis memutuskan rangkaian seketika bila terjadi hubung singkat atau beban lebih. Karena karakteristik perilakunya baik dan mempunyai kapasitas pemutusan arus besar dibandingkan dengan saklar konvensional yang terdiri dari kombinasi saklar pisau dan sekring, ia secara luas dipergunakan sebagai pemutus daya untuk panel distribusi dan kontrol dari peralatan listrik pada suatu bangunan, mesin industri dan sebagainya.
  Pemutus daya untuk tegangan rendah ( 600 volt atau kurang ) dibuat dengan merek: Moulded Case Circuit Breaker, Fuse Free Breaker, dan No Fuse Breaker. Pemutus daya dapat dikelompokkan sebagai tipe elektromagnetik termal dan tipe elektromagnetik penuh. Rating arus nominal MCCB (dalam ampere) adalah sebagai berikut: 10 ; 15 ; 20 ; 30 ; 40 ; 50 ; 60 ; 75 ; 100 ; 125 ; 150 ; 175 ; 200 ; 225 ; 250 ; 300 ; 350 ; 400 ; 500; 600; 700 ; 800 A. Contoh karakteristik arus-waktu dari sebuah MCCB ditunjukkan pada Gambar 6.


Gambar 6. Karakteristik arus-waktu MCCB



3.2.2  Thermal Overload Relay
      Thermal Overload Relay  (TOR) digunakan untuk mengamankan motor listrik terhadap beban lebih. Rele ini bekerja berdasarkan efek thermal dari arus listrik. Jika arus yang mengalir dalam TOR ini melebihi nilai setelannya, akan terjadi pemutusan yang waktunya tergantung kepada arus. Makin besar arus ini, makin singkat waktu pemutusannya. Pemutusan diperlambat secara thermis, misalnya dengan mengunakan elemen dwilogam. Elemen-elemen dwilogam tersebut dipasang di dalam TOR. Kalau arus melalui TOR ini terlalu besar, elemen-elemen tersebut akan menjadi bengkok sehingga saklarnya akan membuka.
      Elemen-elemen dwilogam ini dapat dipanaskan secara langsung atau secara tidak langsung. Pada pemanasan langsung arus mengalir melalui elemen dwilogam sedangkan pada pemanasan tidak langsung arus mengalir melalui kawat tahanan yang dililitkan pada elemen dwilogam. Cara yang terakhir ini digunakan untuk arus-arus kecil. Wiring diagram thermal overload relay ditunjukkan pada Gambar 7.




Gambar 7. Wiring diagram thermal overload relay

3.2.            KOMPONEN KENDALI
Terdiri dari :
a.    Magnetic Contactor
b.    Relay kendali
c.    Time Delay Relay (timer)
d.   Berbagai macam switch :
·         push-button switch,
·         pressure switch,
·         flow switch,
·         level switch,
·         proximity switch, limit switch, dan lain-lain.

3.2.1  Magnetic Contactor dan Rele Kontrol
      Magnetic Contactor dapat dipergunakan pada rangkaian:
·         pengasutan,
·         pengereman,
·         pengendalian motor dan peralatan listrik
      Magnetic contactor mempunyai kemampuan untuk pengsaklaran arus lebih seperti arus asut motor, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk memutus arus abnormal seperti dalam hal hubung singkat motor. Alat lain yang mempunyai prinsip kerja dan kegunaan yang hampir  sama adalah rele kontrol. Bedanya rele kontrol digunakan untuk arus kecil. Wiring diagram magnetic contactor dan rele kontrol masing-masing ditunjukkan pada Gambar 8 dan 9.

Gambar 8. Wiring diagram magnetic contactor

Dengan menggunakan magnetic contactor:
·         memungkinkan beberapa operasi motor listrik atau peralatan listrik lainnya dilaksanakan dari satu atau lebih tempat,
·         rangkaian kontrol dapat diinterlock untuk mencegah kesalahan dan bahaya operasi,
·         peralatan kontrol dapat dipasang pada tempat yang jauh,
·         kontrol otomatis dan semi otomatis dapat dilakukan.
      Untuk memberikan informasi yang berhubungan dengan penggunaan magnetic contactor yang sesuai untuk berbagai macam dan jenis pekerjaan untuk beban resistif maupun motor listrik dapat diketahui dari Utilization category yang terdapat pada katalog yang diterbitkan oleh pabrik pembuat magnetic contactor tersebut. Utilization category yang dimaksud adalah:


AC 1 :  Non inductive loads (resistive load)
AC 2 :  Starting, plugging (slip ring motor)
AC 3 :  Starting, stopping (squirrel cage motor)
AC 4 :  Starting, plugging, inching (squirrel cage motor)
     
Utilization category AC 3 merupakan kategori untuk standard duty sedangkan AC 2, dan  AC 4 merupakan kategori heavy duty. Disamping itu, hal lain yang menjadi dasar dari pemilihan magnetic contactor antara lain adalah :
·         rated operating current ( Ie )
·         tegangan nominal kumparan
·         jumlah auxiliary contact

                 Relay Kendali                                                    Time Delay Relay
                            
                     Gambar 9                                                             Gambar 10

3.2.2 Time Delay Relay
      Prinsip kerja dan kegunaan dari time delay relay mirip dengan rele kontrol, bedanya kontak-kontak time delay relay tidak langsung bekerja ketika kumparannya diberi tegangan melainkan tertunda kerjanya sesuai dengan setelan waktunya. Wiring diagram time delay relay ditunjukkan pada Gambar 10.




4.      PEMILIHAN KOMPONEN-KOMPONEN PENGAMAN, KENDALI DAN PENGHANTAR

            Pemilihan komponen-komponen pengaman, kendali dan penghantar pada suatu instalasi motor induksi tergantung kepada kapasitas motor dan cara pengasutan motor tersebut.

4.1.      PENGASUTAN LANGSUNG (DIRECT ON-LINE STARTING)
         Dengan metoda pengasutan langsung, tegangan penuh disuplai ke motor segera setelah tombol “start” ditekan. Pengasutan langsung banyak digunakan untuk motor-motor rotor sangkar. Cara ini sederhana, murah dan memberi kopel asut yang baik. Akan tetapi sewaktu terjadi proses pengasutan akan timbul arus asut sebesar 5 sampai 6 kali arus beban penuh motor. Karena itu banyak digunakan, kalau arus asutnya yang tinggi tidak menimbulkan gangguan bagi jaringan suplai. Selain itu, kejutan mekanis yang disebabkan oleh gaya-gaya percepatan yang timbul, juga tidak boleh menimbulkan gangguan bagi mesin yang digunakan.



a)      Diagram Skematik

b) Diagram Garis Tunggal
Gambar 11

di mana : IFL = arus beban penuh motor; Ie = rated operational current dari magnetic contactor;
IN = arus nominal MCCB
            Untuk jarak jauh perlu diperhitungkan ukuran penghantar berdasarkan susut tegangan di samping ketentuan di atas.

4.2.            PENGASUTAN STAR-DELTA
         Tipe pengasut ini dipergunakan untuk motor induksi rotor sangkar yang dirancang untuk memberikan keluaran nominal bila kumparan stator dihubungkan delta dan biasanya dipakai dengan motor yang mempunyai keluaran nominal diatas 5,5 KW. Bila mengasut, pengasut menghubungkan kumparan stator dan membuat motor dihubungkan bintang sehingga arus asutnya dikurangi dan setelah mencapai percepatan, untuk operasi selanjutnya hubungan bintang itu diubah menjadi hubungan delta. Pemakaian pengasut ini mengurangi arus asutnya sampai 1/3 dibandingkan dengan pengasut tegangan penuh, akan tetapi harus dicatat bahwa kopel asutnya juga dikurangi 1/3. Waktu pengasutan motor (ts) = 4 + 2ÖP detik, dimana P = KW motor.


a) Diagram Skematik

b) Diagram Garis Tunggal

Gambar 12

4.3.      PENGASUTAN DENGAN REAKTOR
         Cara pengasutan dengan reaktor cocok untuk motor-motor dengan beban yang tergantung pada kecepatan putar, misalnya motor-motor untuk pompa atau untuk ventilator yang langsung dibebani. Kalau arus asutnya diperkecil n kali, kopel asutnya akan menjadi n2 kali lebih kecil. Karakteristik pengasutannya diperlihatkan dalam Tabel 1  berikut.

                                                                     Tabel 1


Sadapan


50 %
65 %
80 %
Tegangan pada motor
50 %
65 %
80 %
Arus asut
50 %
65 %
80 %
Kopel asut
25 %
42,2 %
64 %



a) Diagram Skematik
b)      Diagram Garis Tunggal
Gambar 13

4.3.            PENGASUTAN DENGAN AUTOTRANSFORMER
         Kalau digunakan pengasutan dengan autotransformer, tegangan asut motor diturunkan dengan faktor n, arus motornya juga akan turun dengan faktor n. Arus primer sebuah autotransformer selalu n kali lebih kecil daripada arus sekundernya. Jadi arus asutnya akan n2 kali lebih kecil daripada arus asut yang akan timbul, kalau motor ini dihubungkan langsung dengan jaringan. Autotransformer yang digunakan biasanya memiliki beberapa titik sadap yaitu di kira-kira 50 %, 65 % dan 80 % dari tegangan suplai. Karakteristik pengasutannya diperlihatkan dalam Tabel 2  berikut.



                                                                   Tabel 2


Sadapan


50 %
65 %
80 %
Tegangan pada motor
50 %
65 %
80 %
Arus asut
25 %
42,2 %
64 %
Kopel asut
25 %
42,2 %
64 %

                     a)   Diagram Skematik












b)  Rangkaian ekivalen
Gambar 14

4.5.      MOTOR DENGAN PUTARAN YANG DIATUR
            Untuk suatu keperluan tertentu adakalanya diperlukan suatu pengaturan putaran motor-motor listrik. Pengaturan putaran ini dapat dilakukan antara lain dengan cara-cara sebagai berikut :
a)  dengan perubahan kutub
b)  dengan INVERTER
c)  dengan kopling arus pusar
d)  dengan soft starter
            Dalam pemilihan komponen-komponen pengaman, pengendali dan penghantar untuk instalasi motor-motor induksi dengan putaran yang dapat diatur, dilakukan dengan cara yang sama dengan instalasi motor yang diasut secara langsung (direct on line, dol).

5.      PEMILIHAN UKURAN PENGHANTAR DAN ARUS NOMINAL ALAT PENGAMAN PADA RANGKAIAN CABANG

a.   Pengaman Hubung Singkat Rangkaian Cabang.
            Suatu rangkaian cabang yang menyuplai beberapa motor harus dilengkapi dengan pengaman arus lebih yang tidak melebihi nilai nominal atau setelan alat pengaman rangkaian akhir motor yang tertinggi ditambah dengan jumlah arus beban penuh semua motor lainnya.

b.   Penghantar Rangkaian Cabang
            Penghantar rangkaian cabang yang menyuplai dua motor atau lebih, harus mempunyai KHA sekurang-kurangnya sama dengan jumlah arus beban semua motor itu ditambah 25% dari arus beban penuh motor yang terbesar.

c.   Contoh Pemakaian
            Rangkaian cabang motor dengan tegangan kerja 220/380 V menyuplai motor berikut (perhatikan Gambar 15):
1.   Motor sangkar dengan pengasutan Y-D, arus nominal beban penuh 42 A.
2.   Motor sangkar dengan pengasutan autotransformator, arus nominal beban penuh 54 A.
3.   Motor rotor lilit (2 unit) masing-masing dengan arus nominal beban penuh 68 A.
Masing-masing motor diamankan terhadap hubung singkat dengan pemutus daya.
Tentukan :
1).  KHA penghantar masing-masing rangkaian.
2.   Arus nominal pemutus daya pada masing-masing rangkaian.

Penyelesaian:


Gambar 15

















LAMPIRAN 1

ARUS BEBAN PENUH RATA-RATA MOTOR INDUKSI ROTOR SANGKAR
(4 KUTUB, 380V) DAN RATING MINIMUM FUSE HRC
(Berdasarkan karakteristik klass 0 BSS 88 dan karakteristik lambat VDE 0660)
RATING
MOTOR
COS j
EFF.
(%)
380V
MOTOR
FLC
RATING FUSE
D O L
Y - D
HP
KW
BSS
VDE
BSS
VDE
1
1,5
2
3
4
5
6
7.5
10
12.5
15
20
25
30
40
50
60
75
100
125
150
175
200
250
300
0.75
1.1
1.5
2.2
3
3.7
4.5
5.5
7.5
9.3
11
15
18.6
22
30
37
45
55
75
90
110
130
150
185
225
0.79
0.80
0.80
0.80
0.82
0.82
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
0.84
0.85
0.85
0.85
0.85
0.85
0.86
0.86
0.87
0.88
0.88
0.88
0.88
0.88
74
76
77
79
85
85
86
86
86
87
87
89
90
90
90
91
91
91
92
92
92
92
92
93
93
2
2.6
3.5
6
6.6
8.5
9.9
11.5
15.5
20.3
22.5
30
38
43
57
72
85
104
142
169
204
250
300
355
420
6
6
10
15
15
15
20
25
30
35
40
60
60
80
100
125
160
200
200
250
250
350
400
450
500
4
6
6
10
16
16
20
25
25
35
35
50
63
63
80
100
125
160
200
225
250
300
400
450
500
4
4
4
6
10
16
16
20
20
25
25
35
50
50
60
80
100
100
160
200
200
250
300
350
300
4
4
4
6
10
16
16
20
20
25
25
35
50
50
63
80
100
100
160
200
200
250
300
355
500













LAMPIRAN 2



A. PELACAKAN GANGGUAN SECARA UMUM

Macam gangguan pada motor listrik dan instalasinya dan kemungkinan penyebabnya secara umum adalah sebagai berikut:
1.      Motor tak mengasut
a)      Gangguan sumber daya listrik
b)      Sekring putus atau MCCB trip/terbuka
c)      Thermal overload relay trip
d)     Gangguan pada rangkaian kontrol
e)      Gangguan pada motor ( terjadi hubung buka pada 2 atau 3 fasa)
2.      Bila tombol “ON” ditekan motor berdengung tapi tidak mengasut
a)      Tegangan suplai rendah
b)      Hubung buka di terminal motor
3.      Sekring putus atau MCCB terbuka dengan beban  nol
Gangguan hubung singkat karena hubungan langsung atau karena kerusakan isolasi
4.      Putaran motor rendah
a)      Tegangan sumber rendah
b)      Stator kontak dengan rotor
c)      Celah udara antara stator dan rotor tidak seimbang
d)     Hubung singkat satu fasa atau sebagian kumparan
e)      Kumparan stator terbumikan pada inti
f)       Beban lebih
5.      Sekring putus atau MCCB trip bila beban dipasang
a)      Arus nominal sekring atau MCCB terlalu kecil
b)      Gangguan hubung singkat
c)      Beban motor terlalu berat
6.      Motor tiba-tiba menurun kecepatannya bila beban dipasang dan tidak berputar pada kecepatan nominal (motor dapat menjadi panas berlebihan atau berbunyi)
a)      Tegangan sumber rendah
b)      Tegangan sumber tidak seimbang
c)      Ukuran kabel terlalu kecil
d)     Kontak-kontak yang cacat sehingga menyebabkan jatuh tegangan
e)      Motor berjalan pada satu fasa
f)       Beban terlalu berat
g)      Kumparan terhubung singkat atau dibumikan


B.   PELACAKAN GANGGUAN PADA RANGKAIAN KONTROL

Contoh pada rangkaian kontrol untuk membolak balik putaran motor.



 




















                Gambar L1.  Rangkaian kontrol untuk membolak-balik putaran motor


































































































v















































Share:

Postingan Populer